RBN || Jakarta
Enam negara Teluk seperti Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA) termasuk di antara negara-negara yang paling kekurangan air di dunia.
Negara-negara Teluk sebagian besar berupa wilayah gurun tanpa sungai permanen. Meskipun tidak memiliki sungai, wilayah ini memiliki aliran air musiman yang disebut Wadi, yang hanya mengalir ketika hujan jarang turun.
Lantas, bagaimana negara-negara Teluk mampu memperoleh air untuk memenuhi kebutuhan gabungan populasi mereka, yang melebihi 62 juta orang?
Karena kondisi alam, negara-negara di kawasan Teluk sangat bergantung pada air tanah dan teknologi desalinasi untuk memenuhi kebutuhan air di kota-kota, kawasan industri, serta sektor pertanian.
Adanya perang Amerika Serikat (AS)-Israel di Iran pun turut mengungkap kerentanan infrastruktur air penting di wilayah negara-negara Teluk.
Beberapa waktu lalu, menteri luar negeri Iran menuduh AS menyerang pabrik desalinasi di Pulau Qeshm di lepas pantai Iran di Selat Hormuz. Serangan itu dilaporkan memutus pasokan air ke 30 desa. Hanya 24 jam kemudian, Bahrain mengatakan sebuah drone Iran telah menyebabkan kerusakan material pada salah satu pabrik desalinasinya di dekat Muharraq.
Desalinasi
Desalinasi adalah proses menghilangkan garam dan mineral dari air laut sehingga air tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan manusia, seperti air minum dan irigasi. Proses ini umumnya dilakukan melalui dua metode utama, yaitu distilasi termal dan osmosis terbalik (reverse osmosis).
Secara historis, satu-satunya cara untuk menghilangkan garam dari air adalah dengan merebus air laut lalu mengumpulkan uapnya untuk mendapatkan air tawar. Prinsip inilah yang menjadi dasar metode distilasi termal.
Dalam praktiknya, air laut terlebih dahulu dipompa ke dalam fasilitas pengolahan. Di sana, air akan melewati berbagai filter untuk menghilangkan pasir, alga, dan partikel lainnya. Setelah itu, air dipanaskan hingga menghasilkan uap, sementara garam dan mineral tertinggal. Uap tersebut kemudian didinginkan hingga mengembun dan berubah menjadi air murni hasil distilasi.
Setelah proses ini selesai, sejumlah mineral biasanya ditambahkan kembali ke dalam air, lalu air tersebut didisinfeksi untuk memastikan aman untuk diminum. Tahap terakhir adalah memompa air tersebut ke jaringan pipa kota atau mengemasnya dalam botol untuk digunakan di rumah tangga, bisnis, dan industri.
Sementara itu, osmosis terbalik menggunakan pompa bertekanan tinggi untuk mendorong air laut melewati membran semipermeabel. Membran ini menahan garam dan mineral, sementara molekul air dapat melewatinya sehingga menghasilkan air yang lebih bersih.
Metode ini kini menjadi bentuk desalinasi yang paling banyak digunakan karena biaya operasinya lebih murah, menggunakan energi lebih sedikit, dan tidak menyebabkan polusi termal akibat pembuangan air panas ke laut seperti yang dapat terjadi pada metode distilasi termal.
Negara-negara Teluk menghasilkan sekitar 40 persen dari total air hasil desalinasi di dunia, dengan lebih dari 400 pabrik desalinasi yang beroperasi di sepanjang garis pantai mereka.
Menurut standar PBB, suatu wilayah dikategorikan mengalami kelangkaan air absolut jika ketersediaan air tawarnya kurang dari 500 meter kubik per orang per tahun.
Di negara-negara Teluk, rata-rata ketersediaan air tawar alami hanya sekitar 120 meter kubik per orang per tahun, sehingga mereka sangat bergantung pada desalinasi untuk menutupi kekurangan antara pasokan dan kebutuhan air.
Menurut Al Jazeera yang dikutip dari laporan tahun 2023 dari GCC Statistical Center, enam negara Teluk menghasilkan sekitar 7,2 miliar meter kubik air tawar melalui desalinasi. Volume ini setara dengan sekitar 122 meter kubik per kapita per tahun, atau sekitar 334 liter per hari. Namun kapasitas total fasilitas desalinasi di kawasan ini sebenarnya jauh lebih besar, diperkirakan mencapai 26,4 miliar meter kubik per tahun. (1 miliar meter kubik air setara dengan 1 triliun liter).
Negara terbesar dan paling padat penduduk di kawasan ini adalah Arab Saudi dengan sekitar 37 juta penduduk. Pada tahun 2023, negara ini memproduksi sekitar 3 miliar meter kubik air hasil desalinasi. Setelah itu menyusul UEA dengan 1,9 miliar meter kubik, Kuwait dengan 0,8 miliar meter kubik, Qatar dengan 0,7 miliar meter kubik, Oman dengan 0,5 miliar meter kubik, dan Bahrain dengan 0,3 miliar meter kubik.
Ketergantungan Negara Teluk pada Desalinasi
Curah hujan yang sangat terbatas, tidak adanya sungai permanen, serta menipisnya cadangan air tanah membuat sumber air tawar alami di kawasan Teluk tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang terus berkembang pesat.
Tanpa teknologi desalinasi, pasokan air untuk minum, industri, dan pertanian hampir tidak mungkin terpenuhi. Berdasarkan data dari GCC Statistical Centre mengenai produksi dan konsumsi air, tingkat ketergantungan pada desalinasi di setiap negara Teluk berbeda-beda.
1. Qatar
Qatar merupakan negara yang paling bergantung pada desalinasi. Sekitar 61 persen dari total pasokan airnya berasal dari desalinasi. Dari total sekitar 1,1 miliar meter kubik air per tahun, sekitar 22 persen berasal dari air tanah dan 18 persen dari air hujan. Namun untuk air minum, Qatar hampir sepenuhnya bergantung pada desalinasi—lebih dari 99 persen kebutuhan air minum bagi sekitar 3,2 juta penduduknya berasal dari proses ini.
2. Bahrain
Bahrain berada di posisi kedua dengan 59 persen dari total pasokan airnya berasal dari desalinasi. Dari sekitar 0,5 miliar meter kubik air per tahun, lebih dari 90 persen air minum berasal dari desalinasi. Sementara itu, sekitar 32 persen berasal dari air tanah dan 11 persen dari air hujan untuk memenuhi kebutuhan sekitar 1,6 juta penduduk.
3. Kuwait
Di Kuwait, sekitar 47 persen dari 1,7 miliar meter kubik air yang digunakan setiap tahun berasal dari desalinasi. Sekitar 51 persen berasal dari air tanah, sementara sisanya berasal dari air hujan.
4. UEA
UEA memiliki komposisi yang relatif seimbang. Sekitar 41 persen pasokan airnya berasal dari desalinasi, 46 persen dari air tanah, dan sisanya dari air hujan serta air limbah yang telah diolah kembali. Total pasokan air negara ini mencapai sekitar 4,8 miliar meter kubik per tahun untuk sekitar 11,5 juta penduduk.
5. Oman
Di Oman, sekitar 23 persen dari total 2,2 miliar meter kubik air per tahun berasal dari desalinasi. Sebagian besar lainnya—sekitar 69 persen—berasal dari air tanah, sementara sisanya berasal dari air hujan dan air limbah yang didaur ulang.
6. Arab Saudi
Meskipun memproduksi air hasil desalinasi paling banyak di dunia, Saudi Arabia justru menjadi negara Teluk yang paling sedikit bergantung pada desalinasi. Hanya sekitar 18 persen dari total penggunaan airnya berasal dari desalinasi, sementara sekitar 79 persen berasal dari air tanah. Sisanya berasal dari air hujan. Secara keseluruhan, negara ini menghasilkan sekitar 17,3 miliar meter kubik air per tahun untuk memenuhi kebutuhan sekitar 37 juta penduduknya.
sumber: national geographic











