KTT Lee Jae Myung–Xi Jinping Buka Harapan Baru Pemulihan Hubungan Korea Selatan & China

  • Share
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung bersalaman dengan Presiden China Xi Jinping. (Foto: Yonhap)
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung bersalaman dengan Presiden China Xi Jinping. (Foto: Yonhap)

RBN || China

Hubungan Korea Selatan dan China menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung bertemu Presiden China Xi Jinping dalam pertemuan puncak kedua mereka di Beijing, Senin (6/1/2026). Pertemuan ini memunculkan optimisme baru untuk memperbaiki relasi bilateral dan memperkuat kerja sama di sejumlah isu sensitif, termasuk diplomasi dengan Korea Utara dan persoalan maritim.

KTT berdurasi sekitar 90 menit itu berlangsung di tengah berbagai tantangan, mulai dari pemulihan penuh hubungan bilateral pasca ketegangan beberapa tahun terakhir, penanganan isu nuklir Pyongyang, hingga friksi terkait pemasangan struktur baja China di zona maritim yang dikelola bersama di Laut Kuning.

Dalam sambutan pembuka, Lee menyebut pertemuan ini sebagai momentum penting untuk menjadikan 2026 sebagai tahun pemulihan penuh hubungan Korea Selatan–China. Ia menegaskan komitmen untuk mengembangkan kemitraan strategis kedua negara agar menjadi tren yang berkelanjutan. Xi menyambut baik kunjungan tersebut dan menyebutnya sebagai fondasi era baru hubungan Seoul–Beijing, seraya mendorong komunikasi yang lebih erat antarpemimpin.

Kunjungan ini menjadi yang pertama bagi presiden Korea Selatan ke China dalam tujuh tahun, sekaligus kunjungan kenegaraan pertama dalam sembilan tahun. Hubungan kedua negara sempat memburuk setelah Seoul menempatkan sistem pertahanan rudal Amerika Serikat pada 2017, serta kembali menegang pada masa pemerintahan sebelumnya yang menitikberatkan kedekatan dengan Washington dan Tokyo.

Lee, yang mengusung pendekatan diplomasi pragmatis, menegaskan ingin mengelola hubungan dengan China secara stabil sebagai mitra penting perdagangan, pariwisata, dan perdamaian di Semenanjung Korea, tanpa mengendurkan aliansi strategis dengan Amerika Serikat.

Dalam konteks Korea Utara, Lee menekankan pentingnya kerja sama Seoul–Beijing untuk menghidupkan kembali dialog dengan Pyongyang. Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan, setelah Korea Utara meluncurkan rudal balistik menjelang kedatangan Lee di Beijing dan mengklaim kesiapan kekuatan nuklirnya untuk perang sungguhan.

Penasihat Keamanan Nasional Korea Selatan, Wi Sung-lac, menyatakan kedua pemimpin sepakat bahwa perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea merupakan kepentingan bersama, serta China menyatakan kesediaannya memainkan peran konstruktif.

Selain isu keamanan, pertemuan ini juga menandai dorongan kuat pada kerja sama ekonomi dan budaya. Lee dan Xi menyaksikan penandatanganan 14 nota kesepahaman di berbagai bidang, seperti teknologi, perdagangan, lingkungan, transportasi, dan hak kekayaan intelektual. Di forum bisnis yang dihadiri pelaku usaha kedua negara, Lee mendorong perluasan kerja sama industri teknologi tinggi, termasuk kecerdasan buatan, serta konten budaya.

Isu sensitif turut dibahas, termasuk kekhawatiran Seoul atas pemasangan struktur baja China di Zona Maritim Sementara Laut Kuning. Kedua pihak sepakat pentingnya menjadikan kawasan tersebut sebagai laut yang damai dan sejahtera bersama serta melanjutkan konsultasi. Mereka juga menyepakati pembicaraan tingkat wakil menteri terkait penetapan batas maritim yang belum jelas, yang direncanakan berlangsung tahun ini.

 

Sumber: Yonhap News

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *