RBN || Jakarta
Dalam kepemimpinan modern, komunikasi tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama yang menentukan arah dan keberhasilan seorang pemimpin. Hal ini ditegaskan oleh Dr. Lasmery RM Girsang, ahli komunikasi sekaligus dosen di salah satu kampus terkemuka di Jakarta, dalam wawancara eksklusifnya.
Dr. Lasmery menekankan pentingnya pola komunikasi kepemimpinan yang seimbang, yakni gaya komunikasi yang mampu memadukan ketegasan dengan empati.
“Ketika saya menyebut pola komunikasi kepemimpinan yang seimbang, maksudnya adalah kemampuan seorang pemimpin untuk menempatkan komunikasi secara proporsional: tahu kapan harus berbicara dengan tegas, kapan memberi ruang dialog, dan kapan mendengarkan dengan empati,” ujar Dr. Lasmery.
Menurutnya, keseimbangan ini menjadi jembatan antara visi besar pemimpin dengan kebutuhan nyata orang-orang yang dipimpinnya. Tanpa itu, pemimpin bisa terjebak dalam dua ekstrem: otoriter karena terlalu banyak bicara, atau kehilangan arah karena terlalu permisif.
la juga menegaskan bahwa kepemimpinan yang efektif harus mampu menghadirkan ketegasan sekaligus kehangatan.
“Berbicara tegas itu penting untuk memberi arah dan kejelasan, tapi mendengar penuh empati adalah kunci untuk membangun kepercayaan. Dengan keseimbangan itulah, pemimpin bisa dihormati sekaligus dicintai,” tambahnya.
Diskusi ini menjadi semakin relevan di tengah era digital yang menuntut pemimpin untuk cepat, transparan, dan adaptif. Dr. Lasmery menilai bahwa kredibilitas seorang pemimpin kini sangat bergantung pada kemampuannya menguasai seni berbicara sekaligus mendengar, baik secara offline maupun online. Wawancara ini diharapkan dapat memberi inspirasi bagi generasi muda dan para profesional untuk membangun kepemimpinan yang tidak hanya efektif, tetapi juga lebih manusiawi dan berkelanjutan.











