RBN || Hebron
Ketegangan di Kota Hebron, Tepi Barat yang diduduki, kembali meningkat setelah pasukan Israel melarang pengumandangan azan di Masjid Ibrahimi selama lima hari berturut-turut. Larangan tersebut dinilai sebagai eskalasi terbaru yang berdampak pada aktivitas ibadah warga Palestina di kawasan itu.
Selain menghentikan seruan azan, militer Israel juga mengeluarkan perintah yang melarang Direktur Masjid Ibrahimi, Sheikh Mutaz Abu Sneineh, serta Ketua Pengurus Masjid, Hammam Abu Murkhiya, memasuki kompleks masjid selama 12 hari.
Menurut sumber Palestina yang dikutip Middle East Eye, larangan azan telah diberlakukan sejak Minggu lalu.
Pihak otoritas Israel menyatakan kebijakan tersebut berkaitan dengan pekerjaan pemeliharaan di area masjid. Saat ini, mereka disebut tengah melakukan persiapan pemasangan atap di halaman tengah Masjid Ibrahimi.
Meski demikian, aktivitas salat berjemaah masih tetap berlangsung di dalam masjid.
“Ada salat, tetapi tidak ada seruan azan,” kata sumber Palestina tersebut.
Sumber itu menjelaskan bahwa ruang tempat azan dikumandangkan berada di area masjid yang berada di bawah kendali Israel. Kondisi tersebut membuat muazin tidak dapat menjalankan tugasnya karena akses menuju lokasi ditutup oleh tentara Israel.
“Ruangan tempat azan disiarkan terletak di bagian masjid yang berada di bawah kendali Israel. Tentara menolak mengizinkan muazin, yang mengumandangkan azan, untuk mengaksesnya,” jelas sumber tersebut.
Masjid Ibrahimi merupakan salah satu situs suci yang memiliki nilai penting bagi umat Islam dan Yahudi. Kompleks tersebut telah lama menjadi titik sensitif dalam konflik Israel-Palestina, dengan pengaturan akses yang kerap memicu ketegangan antara kedua pihak.
Sumber: SindoNews











