RBN || Padangsidimpuan
Keluarga Novia Rahmadhani Sihotang (25), calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang meninggal dunia saat mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) di Jakarta, meminta agar peristiwa tersebut menjadi bahan evaluasi agar tidak kembali terulang.
Kakak kandung Novia, Heri Sihotang, menyampaikan bahwa keluarga telah mengikhlaskan kepergian almarhum. Namun, ia berharap pemerintah dan penyelenggara menjadikan kejadian ini sebagai pembelajaran serta melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program tersebut.
“Kami sudah ikhlas atas kepergian adik kami. Kami hanya berharap kejadian ini menjadi pembelajaran dan dilakukan evaluasi agar tidak ada lagi peristiwa serupa,” ujarnya.
Selain itu, keluarga juga meminta adanya tanggung jawab moral dari instansi penyelenggara hingga pemerintah pusat, termasuk Presiden Prabowo Subianto. Mereka berharap penanganan kasus dilakukan secara terbuka sehingga tidak menimbulkan berbagai informasi yang simpang siur di masyarakat.
Novia merupakan warga Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara, yang mengikuti pendidikan dan pelatihan sebagai peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP). Ia berangkat ke Jakarta pada 13 Juni 2026 dalam kondisi sehat dan sempat berkomunikasi dengan keluarga sebelum akhirnya dikabarkan meninggal dunia pada Selasa (23/6/2026).
Jenazah Novia tiba di kampung halamannya pada Rabu (24/6/2026) dan dimakamkan pada malam harinya setelah disalatkan di masjid setempat.
Kasus ini menambah jumlah peserta program Latsarmil Kopdes Merah Putih yang meninggal dunia selama pelaksanaan pelatihan. Peristiwa tersebut memunculkan desakan dari berbagai pihak agar pemerintah mengevaluasi metode pelatihan, terutama terkait aspek keselamatan dan kesehatan peserta.
Sumber: Kompas.com











