RBN || Teheran
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa kemampuan pertahanan dan daya tangkal militer negaranya tidak akan pernah menjadi bahan perundingan dengan pihak mana pun. Menurutnya, kekuatan rudal dan sistem pertahanan Iran merupakan bagian penting dalam menjaga kedaulatan serta melindungi negara dari berbagai ancaman luar.
Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian saat menghadiri konferensi pers bersama Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif di Islamabad, Pakistan, Selasa (23/6/2026).
Dalam kesempatan itu, Pezeshkian menegaskan bahwa program pertahanan Iran tidak dapat dinegosiasikan dalam kondisi apa pun.
“Republik Islam Iran tidak akan pernah, dalam kondisi apa pun, mengadakan pembicaraan dengan pihak mana pun mengenai kemampuan pertahanan dan pencegahannya,” tegasnya seperti dikutip dari kantor berita IRNA.
Menurut Pezeshkian, kemampuan militer yang dimiliki Iran selama ini berfungsi sebagai alat pencegah untuk menghadapi berbagai bentuk agresi terhadap negaranya. Karena itu, Teheran menolak segala upaya yang berusaha memasukkan program pertahanan dan rudal Iran ke dalam agenda perundingan internasional.
Ia menilai kekuatan rudal Iran telah memberikan perlindungan strategis bagi negaranya dan membantu menjaga stabilitas keamanan nasional. Pezeshkian bahkan menyebut kemampuan tersebut menjadi salah satu faktor yang mencegah Iran mengalami kondisi serupa dengan konflik yang terjadi di Gaza.
Presiden Iran itu juga menekankan bahwa penguatan sektor pertahanan merupakan hak setiap negara berdaulat demi menjaga keamanan dan melindungi rakyatnya.
Selain membahas isu pertahanan, Pezeshkian turut melontarkan kritik kepada sejumlah negara Barat yang kerap mengklaim sebagai pembela hak asasi manusia. Menurutnya, terdapat perbedaan antara nilai-nilai yang mereka gaungkan dengan tindakan yang dilakukan dalam berbagai konflik internasional.
Pernyataan tersebut kembali menegaskan sikap Teheran yang konsisten mempertahankan program pertahanan nasionalnya di tengah berbagai tekanan dan dinamika geopolitik yang berkembang di kawasan Timur Tengah.
Sumber: Berita Satu











