RBN || Jakarta
Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami koreksi tajam pada akhir Januari 2026. Setelah sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah di level Rp3,168 juta per gram pada Kamis (29/1), harga emas Antam turun sebesar Rp260 ribu menjadi Rp2,860 juta per gram pada Sabtu (31/1). Pergerakan ekstrem tersebut memicu perhatian pelaku pasar dan masyarakat, sekaligus menimbulkan pertanyaan apakah penurunan ini masih tergolong wajar atau justru menjadi sinyal perubahan tren harga emas.
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita, menilai gejolak harga emas belakangan ini merupakan refleksi dari dinamika ekonomi global yang sangat cair dan bergerak cepat. Menurutnya, lonjakan harga emas sebelumnya dipicu oleh meningkatnya permintaan terhadap aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian global.
“Pergerakan harga emas yang cukup tajam ini mencerminkan kondisi global yang dinamis. Ada kombinasi antara meningkatnya ketidakpastian ekonomi, pergeseran aset bank sentral ke safe haven, serta menurunnya daya tarik imbal hasil obligasi di sejumlah negara,” ujar Ronny, Senin (2/2).
Ia menjelaskan, di Indonesia, lonjakan harga emas hingga menembus Rp3,168 juta per gram didorong oleh sentimen global, mulai dari ekspektasi arah suku bunga Amerika Serikat (AS), meningkatnya tensi geopolitik, hingga volatilitas pasar keuangan internasional. Kondisi tersebut membuat investor cenderung mencari aset yang dinilai aman, termasuk emas.
Adapun koreksi harga yang terjadi pada Sabtu (31/1), menurut Ronny, dipicu oleh aksi ambil untung (profit taking) dari investor jangka pendek serta perubahan ekspektasi pasar. Ketika harga emas melonjak terlalu cepat dan mencapai level yang sangat tinggi, sebagian investor memilih mengamankan keuntungan mereka.
“Di saat yang sama, penguatan dolar AS dan kenaikan tipis imbal hasil obligasi global membuat emas menjadi relatif kurang menarik, karena emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil,” jelasnya.
Meski demikian, Ronny menegaskan bahwa penurunan harga emas saat ini masih tergolong sebagai koreksi teknikal yang sehat dan belum menunjukkan adanya pembalikan tren besar. Ia mencontohkan pergerakan imbal hasil surat utang pemerintah Jepang yang melonjak cepat mendekati 4 persen sebagai salah satu indikator tekanan pasar global.
“Ini lebih tepat dibaca sebagai koreksi teknikal yang sehat, bukan sinyal berakhirnya tren kenaikan emas,” tegasnya.
Sejalan dengan itu, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, juga menilai koreksi harga emas masih berada dalam batas wajar. Ia menyebut terdapat dua faktor utama yang memicu penurunan harga. Pertama, aksi profit taking setelah harga emas menyentuh rekor tertinggi. Kedua, sentimen dari Amerika Serikat terkait rencana Presiden AS Donald Trump mengganti Gubernur Bank Sentral AS, yang memicu ekspektasi kebijakan moneter lebih ketat.
“Penguatan dolar AS membuat emas sebagai aset lindung nilai sementara berkurang daya tariknya. Sebagian investor beralih ke aset berdenominasi dolar,” kata Bhima.
Namun demikian, Bhima memproyeksikan harga emas masih berpotensi tetap tinggi ke depan. Peningkatan aktivitas perdagangan global, tren dedolarisasi oleh bank sentral negara berkembang—terutama negara BRICS—serta meningkatnya kebutuhan emas dalam industri teknologi seperti AI, semikonduktor, dan pusat data, menjadi faktor pendorong utama.
“Gejolak harga ini justru sering dimanfaatkan masyarakat sebagai momentum membeli sebelum terjadi reli harga berikutnya,” ujarnya.
Bhima menambahkan, dalam lima tahun terakhir emas mencatatkan imbal hasil sekitar 204 persen, menjadikannya salah satu instrumen investasi paling tangguh. Bahkan, jika risiko geopolitik global meningkat, harga emas berpotensi kembali melesat.
Sumber: CNN Indonesia











