RBN || Teheran
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran menutup wilayah udaranya sebagai sinyal akan melancarkan serangan balasan terhadap Israel dan Amerika Serikat. Langkah ini diambil menyusul serangan yang diduga melibatkan kedua negara tersebut.
Kepala Komisi Keamanan Nasional Iran, Ebrahim Azizi, mengeluarkan pernyataan tegas terkait situasi tersebut.
‘Kami sudah memperingatkan Anda,’ kata Ebrahim Azizi, dilansir Al Jazeera.
“Sekarang Anda telah memulai jalan yang ujungnya tidak lagi berada dalam kendali Anda,” tambahnya.
Seorang pejabat Iran yang berbicara kepada kantor berita Reuters menyebut Teheran tengah mempersiapkan respons atas serangan AS-Israel. Ia menegaskan bahwa balasan yang akan diberikan bersifat besar dan menghancurkan.
Reuters juga melaporkan bahwa Iran memang sedang bersiap untuk melakukan pembalasan dengan respons yang disebut akan sangat menghancurkan.
Di sisi lain, sejumlah media lokal Iran melaporkan terjadinya ledakan di beberapa kota, termasuk Kermanshah, Lorestan, Tabriz, Isfahan, dan Karaj. Hingga kini belum ada pernyataan resmi mengenai jumlah korban atau tingkat kerusakan akibat ledakan tersebut.
Situasi mencekam juga dirasakan warga sipil. Seorang warga Teheran berusia 35 tahun mengaku melihat langsung serangan dari tempat kerjanya.
“Ada banyak suara dan ledakan, dan (itu) sangat menakutkan. Semua orang panik dan mulai pergi,” katanya kepada CNN.
Ia menambahkan, “Situasinya benar-benar buruk, mereka telah menyerang beberapa tempat dan kami melihatnya, tetapi sekarang kita harus menunggu dan melihat.”
Sebagai dampak dari eskalasi ini, baik Iran maupun Israel sama-sama menutup wilayah udara mereka. Media Israel melaporkan bahwa pemerintah setempat menutup wilayah udara untuk penerbangan sipil setelah serangan terhadap Iran pada Sabtu pagi.
Sementara itu, Kantor Berita Tasnim yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam melaporkan bahwa Iran juga menutup wilayah udaranya.
Penutupan wilayah udara di kedua negara tersebut semakin mempertegas situasi genting yang berpotensi memicu konflik lebih luas di kawasan. Hingga kini, belum ada tanda-tanda deeskalasi dari kedua belah pihak.
Sumber: SindoNews











