763 Kg Ikan Sapu-Sapu Ditangkap di Jaktim, Langsung Dimusnahkan dengan Cara Dikubur

  • Share
Foto: Kompas.com

RBN || Jakarta

Pemerintah Kota Jakarta Timur melakukan operasi besar-besaran penangkapan ikan sapu-sapu yang hasilnya mencapai 763 kilogram dalam satu kegiatan serentak di 10 kecamatan. Operasi ini digelar sebagai respons atas melonjaknya populasi ikan invasif tersebut di berbagai aliran sungai dan setu, yang dinilai telah mengganggu keseimbangan ekosistem perairan di wilayah ibu kota.

Wali Kota Jakarta Timur, Munjirin, menjelaskan bahwa jumlah tersebut merupakan hasil rekap sementara sejak kegiatan dimulai pada Kamis 16 April hingga Jumat pagi. “Sampai dengan hari ini… rekap dari 10 lokasi sebanyak 763 kilogram atau 7,63 kuintal,” ujarnya. Salah satu titik dengan tangkapan terbesar berada di kawasan Dermaga Eco Eduwisata Ciliwung, Cililitan, yang menyumbang sekitar 200 kilogram dari total hasil.

Operasi ini melibatkan ratusan personel gabungan, termasuk petugas pemadam kebakaran, BPBD, aparat kecamatan dan kelurahan, serta masyarakat. Di satu lokasi saja, sekitar 150 personel diterjunkan untuk mempercepat proses penangkapan. Besarnya jumlah tangkapan dalam waktu singkat menunjukkan bahwa populasi ikan sapu-sapu sudah sangat tinggi dan membutuhkan penanganan serius serta berkelanjutan.

Selain berdampak pada lingkungan, ikan sapu-sapu juga dinilai berbahaya bagi kesehatan manusia. Berdasarkan hasil uji, ikan ini diduga mengandung logam berat seperti merkuri dan timbal yang melebihi ambang batas aman. Karena itu, pemerintah tidak memperbolehkan ikan tersebut untuk dikonsumsi masyarakat dan memilih langkah tegas untuk memusnahkannya.

Seluruh ikan hasil tangkapan langsung dimusnahkan dengan cara dikubur. “Semua harus dikubur. Kami tidak ingin ikan ini dikonsumsi masyarakat karena berbahaya bagi kesehatan,” tegas Munjirin.

Langkah ini diharapkan tidak hanya mengurangi populasi ikan invasif, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan sungai serta tidak mengonsumsi ikan yang berpotensi membahayakan kesehatan.

Sumber: Kompas.com

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *