RBN || Batu
Di balik ramainya wisatawan yang rela mengantre sejak dini hari di Punk Potatoes Cafe & Breakfast Sunrise di Kota Batu, Jawa Timur, tersimpan kisah inspiratif Alfredo Dhilan, seorang alumnus Universitas Brawijaya (UB) yang memilih meninggalkan karier di bidang teknik demi membangun usaha di tanah kelahirannya.
Pria yang akrab disapa Edo itu mengaku tidak pernah membayangkan akan terjun ke dunia kuliner. Setelah menempuh pendidikan teknik dan sempat bekerja sesuai bidang keilmuannya, kerinduan terhadap Kota Batu mendorongnya untuk kembali ke kampung halaman dan memulai usaha dari nol.
Keputusan tersebut bukanlah hal mudah. Namun, kecintaannya terhadap daerah asal serta keinginan mengembangkan potensi lokal membuatnya mantap meninggalkan zona nyaman demi membangun bisnis yang berakar pada identitas Kota Batu.
Sejak kecil, Edo telah akrab dengan dunia pertanian. Kakek, nenek, hingga orang tuanya merupakan petani apel yang menjadi bagian dari sejarah pertanian Kota Batu. Berbekal pengalaman itu, ia pertama kali merintis usaha olahan apel berupa teh apel kering dengan merek “Apel Celup”, yang telah dijalankan selama sekitar delapan tahun.
Seiring waktu, Edo melihat kentang sebagai salah satu komoditas unggulan Kota Batu yang belum banyak diangkat sebagai identitas wisata kuliner. Dari gagasan itulah lahir Punk Potatoes Cafe & Breakfast Sunrise, sebuah konsep kafe yang memadukan sajian berbahan dasar kentang dengan panorama matahari terbit.
Nama “Punk Potatoes” sendiri dipilih bukan karena berkaitan dengan komunitas punk. Menurut Edo, nama tersebut terinspirasi dari slogan “Punk Never Die” yang melambangkan keberanian untuk tampil berbeda dan terus berkarya.
Melalui usahanya, Edo juga ingin menghidupkan kembali sejarah pertanian Kota Batu. Ia mengangkat kisah masuknya apel dari Eropa dan kentang yang dibawa bangsa Eropa pada masa kolonial hingga akhirnya berkembang menjadi komoditas utama masyarakat setempat.
Dengan konsep yang menggabungkan kuliner, sejarah, dan potensi pertanian lokal, Punk Potatoes kini menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan di Kota Batu. Kisah Edo pun menjadi inspirasi bahwa keberanian kembali ke kampung halaman dan mengembangkan potensi daerah dapat melahirkan usaha yang sukses sekaligus memperkenalkan identitas lokal kepada masyarakat luas.
Sumber: Kompas.com











