RBN || Pati
Dentuman alu yang menghantam lesung bergema di halaman Polresta Pati, Jawa Tengah, Sabtu (30/5/2026). Suara khas yang identik dengan kehidupan petani itu sengaja dihadirkan ratusan warga lereng Pegunungan Kendeng sebagai simbol perlawanan terhadap maraknya aktivitas pertambangan yang dinilai merusak lingkungan.
Di tengah aksi unjuk rasa, sejumlah perempuan yang tergabung dalam “Srikandi Kendeng” memainkan lesung secara bergantian sambil melantunkan tembang Jawa bernada lirih. Syair yang mereka nyanyikan berisi kritik dan peringatan mengenai dampak penambangan terhadap masa depan masyarakat dan generasi mendatang.
“Tambang yang merusak itu seperti rampok. Yang dirampok bukan hanya harta bendanya. Yang dirampok itu nasib anak cucu. Yang dirampok itu nasib anak cucu. Jika semua ditambang, sumber air menghilang. Lalu sungai kering hilang kedungnya. Anak cucu cuma kebagian sengsara dan cuma kebagian makan debu.”
Lantunan tersebut menjadi suara kegelisahan warga yang selama ini menggantungkan hidup pada kelestarian alam Pegunungan Kendeng.
Aksi yang digelar oleh Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) itu merupakan bagian dari peringatan Hari Anti Tambang 2026. Massa menilai penanganan terhadap aktivitas galian C ilegal di kawasan Pegunungan Kendeng berjalan lambat, sementara kerusakan lingkungan terus terjadi.
Pegunungan Kendeng yang membentang dari wilayah Sukolilo hingga Tambakromo disebut semakin terancam akibat aktivitas pertambangan yang berlangsung secara masif. Selain persoalan lingkungan, warga juga mengaku khawatir dengan munculnya praktik premanisme di kawasan tambang.
Dalam aksi tersebut, warga membawa berbagai spanduk berisi tuntutan dan kritik. Salah satunya bertuliskan, “KLHS Pegunungan Kendeng tidak membolehkan penambangan di Pegunungan Kendeng 7 kabupaten”. Spanduk lain memuat tuntutan agar aparat menindak tegas pihak-pihak yang diduga terlibat dalam praktik pertambangan ilegal.
Koordinator aksi JMPPK, Gunretno, menjelaskan bahwa lesung yang dibawa warga bukan sekadar alat tradisional, melainkan simbol penting bagi kehidupan petani.
“Lesung merupakan simbol kedaulatan pangan, sekaligus alarm tanda bahaya bagi kerusakan lingkungan di Pegunungan Kendeng,” ujar Gunretno.
Menurutnya, lesung memiliki nilai sejarah yang erat dengan kehidupan masyarakat agraris sebelum hadirnya teknologi penggilingan padi modern.
“Ketukan lesung dalam aksi ini, ibarat kentongan, dimaknai sebagai alarm seruan agar masyarakat tidak takut bersuara melawan keberadaan tambang yang merusak alam,” tutur Gunretno dalam orasinya.
Ia juga menyoroti kondisi sosial yang berkembang di sekitar kawasan pertambangan. Menurut Gunretno, masyarakat kerap merasa takut untuk mempertanyakan aktivitas tambang karena khawatir mendapat tekanan.
“Warga yang mempertanyakan legalitas atau dampak tambang, sering kali langsung dicap sebagai pihak yang tidak setuju. Sementara pihak pemilik tambang selalu tertutup dan enggan memberikan jawaban,” katanya.
Gunretno mengungkapkan bahwa pihaknya telah berulang kali menyampaikan laporan kepada pemerintah terkait dugaan pelanggaran yang dilakukan sejumlah perusahaan tambang. Bahkan, surat yang dikirim ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) disebut telah mendapat respons.
“Dan ketidakpatuhan itu telah saya sampaikan ke ESDM Jawa Tengah, namun hingga saat ini tidak ada tindakan lanjutan,” imbuh Gunretno dengan lantang.
JMPPK juga mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk mengambil langkah yang lebih tegas dalam menangani persoalan pertambangan di kawasan Kendeng.
“JMPPK mendesak Gubernur Jawa Tengah untuk mengambil tindakan nyata di lapangan, bukan sekadar melakukan pencitraan terkait isu kepedulian lingkungan,” ungkap Gunretno.
Menurutnya, dampak aktivitas pertambangan tidak hanya dirasakan masyarakat di Kabupaten Pati, tetapi juga meluas ke sejumlah wilayah lain yang berada dalam bentang alam Pegunungan Kendeng, seperti Grobogan, Blora, dan Rembang. Kerusakan sumber air, terganggunya ekosistem karst, hingga ancaman terhadap sektor pertanian menjadi persoalan yang terus dikhawatirkan warga setempat.
Sumber: Liputan6











