RBN || Jakarta
Pembina Global Peace Convoy Indonesia, Bachtiar Nasir, mendesak Pemerintah Indonesia segera mengambil langkah diplomasi darurat menyusul pencegatan kapal kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 oleh militer Israel di perairan Laut Mediterania. Desakan tersebut disampaikan setelah sejumlah warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan dilaporkan ditahan saat kapal menuju Gaza, Palestina.
Dalam pernyataan resminya, Ustaz Bachtiar Nasir meminta Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia bergerak cepat untuk memastikan keselamatan seluruh delegasi Indonesia yang berada dalam armada kemanusiaan tersebut. Menurutnya, para relawan hadir bukan untuk kepentingan politik maupun militer, melainkan membawa bantuan dan solidaritas kemanusiaan bagi rakyat Palestina yang hingga kini masih hidup di bawah blokade dan krisis berkepanjangan.
“Pemerintah Republik Indonesia perlu segera mengambil langkah diplomatik yang tegas dan terukur untuk memastikan keselamatan warga negara Indonesia yang tergabung dalam misi kemanusiaan ini,” ujar UBN dalam keterangannya.
Ia menilai tindakan intersepsi terhadap kapal sipil yang membawa bantuan kemanusiaan merupakan pelanggaran terhadap prinsip-prinsip hukum internasional dan hak asasi manusia. Karena itu, ia juga meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa serta lembaga-lembaga HAM internasional turun tangan menekan Israel agar menghentikan pencegatan kapal sipil dan membebaskan seluruh aktivis yang ditahan.
Sementara itu, Global Peace Convoy Indonesia mengonfirmasi lima WNI telah ditangkap dalam operasi pencegatan tersebut. Mereka adalah aktivis Andi Angga yang berada di kapal Josef, jurnalis Republika Bambang Noroyono di kapal Bolarize, serta tiga jurnalis lainnya di kapal Ozgurluk, yakni Andre Prasetyo dari TV Tempo, Thoudy Badai dari Republika, dan Heru Rahendro dari iNews.
Koordinator Media GPCI, Harfin Naqsyabandy, mengatakan pencegatan dilakukan tentara Israel saat armada berada di laut lepas Mediterania dalam perjalanan menuju Gaza. Hingga kini, pihaknya masih terus memantau perkembangan kondisi para delegasi Indonesia yang berada di kapal tersebut.
Selain lima WNI yang ditangkap, empat warga Indonesia lainnya dilaporkan masih berada dalam pelayaran bersama armada kemanusiaan. Mereka adalah Asad Aras dan Hendro Prasetyo di kapal Kasri Sadabad, serta Herman Budianto dan Ronggo Wirsanu di kapal Zefiro.
UBN juga mengajak masyarakat Indonesia untuk terus memberikan dukungan moral dan doa bagi para relawan kemanusiaan. Ia mengingatkan publik agar tetap bijak dalam menyebarkan informasi terkait insiden tersebut dan mengutamakan sumber yang terpercaya demi menjaga keselamatan para delegasi di lapangan.
Sumber: Detik News











