RBN || Jakarta
Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) Soleman Ponto menyoroti revisi Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2025 tentang TNI sebagai salah satu faktor yang dapat memicu tekanan psikologis di kalangan prajurit, bahkan dikaitkan dengan kasus kekerasan seperti penyiraman air keras terhadap aktivis, pernyataan ini disampaikan dalam seminar intelijen di Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta pada Rabu, 15 April 2026.
Dalam penjelasannya Ponto menggambarkan kondisi stagnasi karier yang dapat menimbulkan frustrasi di internal militer, “Nah, lihat begini posisi Kolonel, lihat, ‘Wah, Pati sudah duduk lupa berdiri. Lalu aku kapan ke sana?’ Ketika dia ngelamun-ngelamun, Pama juga bingung. Akhirnya Pama, ‘Ngapain kita?’ Ah, mari kita mandi-mandi air keras aja lah,” ujarnya, pernyataan tersebut menunjukkan bagaimana tekanan karier dapat memengaruhi kondisi psikologis prajurit jika tidak dikelola dengan baik.
Dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2025 tentang TNI Pasal 53 ayat 2 secara jelas diatur batas usia pensiun prajurit yaitu bintara dan tamtama paling tinggi 55 tahun, perwira sampai dengan pangkat kolonel paling tinggi 58 tahun, perwira tinggi bintang satu paling tinggi 60 tahun, bintang dua 61 tahun, dan bintang tiga 62 tahun, aturan ini menjadi poin penting karena berbeda dengan ketentuan sebelumnya dalam Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI yang menetapkan batas usia pensiun perwira secara umum di angka 58 tahun sehingga perubahan ini memengaruhi dinamika jenjang karier prajurit.
Untuk mencegah munculnya frustrasi tersebut Ponto menekankan pentingnya pembinaan langsung dari atasan, “Itu kenapa? Karena tidak bisa menjaga. Kita harus bisa jaga ini, arahan, bagaimana kesabaran. Bagaimana kita membangun kepercayaan,” katanya, menurutnya pendekatan komunikasi yang tepat sangat dibutuhkan dalam menjaga stabilitas mental dan kedisiplinan prajurit.
Lebih lanjut ia menegaskan bahwa pembinaan harus dilakukan secara personal dan tatap muka agar atasan benar benar memahami kondisi anggotanya, “Ini handler, melatih. Ini pekerjaan handler yang tiap hari ketemu face to face. Kalau itu ketemu dari orang per orang, nanti dari kepala orang itu dengan kepala orang itu, atasnya lagi, terus begitu. Sehingga terjadilah sinergi untuk patuh,” ujarnya, pendekatan ini dinilai mampu menciptakan kepatuhan serta mencegah potensi penyimpangan perilaku di lingkungan militer.
Sumber: CNN Indonesia











