RBN | | Bandung
Apresiasi peningkatan nilai rapor pendidikan kembali digelar Dinas Pendidikan Kota Bandung. Acara yang dirangkaikan dengan Rapat Koordinasi Perencanaan Berbasis Data ini berlangsung di Harris Hotel & Convention Festival Citylink, Jumat 29 Agustus 2025, dan dihadiri ratusan kepala sekolah serta guru dari jenjang SD dan SMP Negeri.
Pada kesempatan itu, sebanyak 60 sekolah menerima penghargaan karena berhasil meningkatkan capaian rapor pendidikan dalam berbagai kategori. Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Asep Saeful Gufron, menjelaskan bahwa penghargaan diberikan berdasarkan sepuluh aspek penilaian, mulai dari literasi, pendidikan karakter, kualitas pembelajaran, hingga tata kelola keuangan dan kebijakan satuan pendidikan. Menurutnya, apresiasi ini bukan sekadar simbol penghargaan, melainkan bentuk pengakuan atas kerja keras sekolah dalam menjadikan rapor pendidikan sebagai dasar perencanaan.
“Rapor pendidikan itu bukan hanya deretan angka, melainkan potret nyata bagaimana kualitas pembelajaran berlangsung di sekolah. Karena itu, setiap kebijakan maupun program harus berpijak pada data yang valid dan akurat,” jelas Asep. Ia menambahkan, capaian standar pelayanan minimal (SPM) Kota Bandung saat ini berada di angka 81,34 dengan status tuntas madya. Peningkatan signifikan juga terlihat pada jenjang PAUD, terutama dari jumlah guru berpendidikan sarjana, sementara di tingkat SD dan SMP peningkatan terbesar tampak pada nilai numerasi.
Dari sisi pembiayaan, Asep menyoroti pentingnya penggunaan anggaran yang tepat sasaran. Ia menyebutkan bahwa 64,64 persen atau sekitar Rp1,2 triliun dari total belanja pendidikan Kota Bandung terserap untuk belanja pegawai, sedangkan 18,8 persen atau Rp395,55 miliar dialokasikan untuk dana BOS. “Setiap rupiah harus diarahkan dengan cermat. Jika salah dalam perencanaan, yang menanggung akibatnya bukan hanya sekolah, melainkan para peserta didik,” tegasnya.
Apresiasi yang diberikan, lanjut Asep, diharapkan dapat memicu semangat sekolah lain untuk membangun budaya kerja berbasis data. Kolaborasi yang melibatkan pemerintah, guru, orang tua, hingga masyarakat sangat penting agar mutu pendidikan di Bandung semakin merata, inklusif, dan berdaya saing.
Wakil Wali Kota Bandung, Erwin, yang turut hadir, memberikan apresiasi khusus kepada para penerima penghargaan. Ia menilai capaian tersebut merupakan buah dari kerja keras para guru dan kepala sekolah yang dengan penuh dedikasi mengorkestrasi proses pembelajaran. “Keberhasilan ini adalah hasil gotong royong semua aktor pendidikan. Mulai dari guru mata pelajaran, guru kelas, sampai kepala sekolah yang memimpin jalannya pembelajaran,” ujarnya.
Lebih jauh, Erwin menekankan bahwa rapor pendidikan sejatinya mencerminkan keberhasilan guru dalam mentransfer ilmu, sekaligus menjadi cermin kualitas pembelajaran. Oleh sebab itu, ia mengingatkan agar pengisian rapor dilakukan dengan jujur dan objektif. “Manipulasi nilai bukan hanya menyalahi prinsip akhlak, tetapi juga menjauhkan kita dari tujuan besar, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa,” katanya.
Selain capaian akademik, Erwin menggarisbawahi pentingnya kompetensi nonakademik, seperti kolaborasi, kreativitas, berpikir kritis, serta empati. Ia juga menekankan agar nilai-nilai kearifan lokal khas Sunda—silih asah, silih asih, silih asuh, dan silih wangi—dapat diinternalisasikan sejak dini, sehingga peserta didik tumbuh sebagai pribadi yang utuh dan berkarakter.
Dalam sambutannya, Erwin turut memotivasi para pendidik agar meniatkan jabatan dan pengabdiannya sebagai bentuk ibadah. “Tidak semua orang diberikan kesempatan menjadi guru atau kepala sekolah. Itu adalah pilihan Allah. Jika kita meniatkannya sebagai ibadah, insyaallah hidup akan penuh keberkahan,” ucapnya.
Acara Apresiasi Peningkatan Nilai Rapor Pendidikan ini akhirnya menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan di Kota Bandung. Bukan sekadar penghargaan, melainkan pengingat bahwa setiap upaya peningkatan mutu harus berlandaskan data yang jujur, kerja keras, dan semangat kolaborasi. Seperti ditegaskan Asep, “Apresiasi hari ini bukanlah akhir, tetapi pemicu agar semua sekolah semakin serius bekerja demi masa depan anak-anak kita.”











