Warga AS Tempel Paspor di Dahi sebagai Bentuk Protes Operasi Imigrasi ICE

  • Share
Tangkapan layar dari video kreator konten TikTok @dotish001 yang memperlihatkan dirinya menempelkan paspor dan green card di dahi agar tak digerebek agen Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE). Video ini viral telah ditonton lebih dari 7 juta kali sampai akhir Januari 2026.(TIKTOK @dotish001 via NEWSWEEK)

RBN || Amerika Serikat

Aksi unik sekaligus satir dilakukan sejumlah warga Amerika Serikat sebagai bentuk protes terhadap operasi penegakan hukum imigrasi oleh Badan Imigrasi dan Bea Cukai (Immigration and Customs Enforcement/ICE). Mereka membagikan video di media sosial dengan menempelkan paspor atau kartu identitas di dahi, sebagai simbol kecemasan terhadap pemeriksaan kewarganegaraan yang dinilai semakin agresif.

Salah satu video yang viral diunggah kreator TikTok dengan akun @dotish001. Dalam rekaman tersebut, ia terlihat berjalan di ruang publik sambil menempelkan paspornya di kepala.

“Beginilah cara kami beraktivitas,” ucapnya dalam video, menggambarkan rasa waswas akan kemungkinan diminta menunjukkan bukti kewarganegaraan secara tiba-tiba.

Kepada Newsweek, kreator tersebut menjelaskan bahwa video itu dibuat sebagai bentuk komentar sosial atas situasi yang berkembang.

“Saya membuat video ini sebagai respons terhadap rasa takut dan ketidakpastian yang muncul akibat operasi ICE saat ini,” ujarnya melalui pesan media sosial. Menurutnya, media sosial menjadi ruang bagi banyak orang untuk mengekspresikan kecemasan, berbagi pengalaman, sekaligus menggunakan simbolisme dan satire untuk menyikapi persoalan serius.

Fenomena ini mencuat setelah dua warga negara AS dilaporkan tewas dalam kurun waktu kurang dari tiga minggu dalam operasi penegakan imigrasi di Minneapolis. Korban adalah Alex Pretti (37), seorang perawat ICU, serta Renee Good, ibu tiga anak. Keduanya ditembak aparat, masing-masing oleh Patroli Perbatasan dan ICE.

Peristiwa tersebut memicu gelombang protes di sejumlah kota dan meningkatkan sorotan publik terhadap metode kerja ICE.

Data menunjukkan sepanjang 2025, sedikitnya 32 orang meninggal dalam tahanan ICE, angka tertinggi dalam dua dekade terakhir. Selain itu, lembaga ini juga menuai kritik terkait dugaan penangkapan tanpa prosedur hukum yang jelas, penahanan anak-anak, serta praktik profil rasial.

Dalam unggahan lain, @dotish001 juga memperlihatkan dirinya berada di dalam mobil dengan SIM ditempelkan di kepala. Video itu disertai tulisan “Permisi Nona ICE” dan keterangan, “Begini cara pemegang green card bergerak di Amerika.”

Aksi-aksi simbolik tersebut mencerminkan meningkatnya keresahan masyarakat atas kebijakan imigrasi dan cara penegakan hukum yang dinilai kian keras. Banyak warga berharap pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh agar perlindungan hak asasi manusia tetap menjadi prioritas dalam setiap operasi.

Sumber: Kompas

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *