Trump Ancam “Taklukkan” Kuba di Tengah Krisis Listrik dan Tekanan Ekonomi

  • Share
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (Foto: REUTERS/Nathan Howard)

RBN || Jakarta

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kontroversi di panggung geopolitik internasional setelah menyatakan niatnya untuk “menaklukkan” Kuba. Pernyataan tersebut muncul di tengah krisis energi yang sedang melanda negara kepulauan Karibia itu.

Dalam pernyataannya kepada wartawan di Gedung Putih, Trump mengatakan bahwa Kuba saat ini berada dalam kondisi yang sangat lemah akibat tekanan ekonomi dan krisis listrik berkepanjangan.

“Sepanjang hidup saya, saya selalu mendengar tentang hubungan Amerika Serikat dan Kuba. Saya yakin saya bisa mendapat kehormatan untuk mengambil alih Kuba,” ujar Trump, seperti dikutip dari laporan AFP.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu ancaman paling eksplisit yang pernah disampaikan Trump terhadap negara yang selama hampir tujuh dekade memiliki hubungan tegang dengan Washington.

Saat ini Kuba tengah menghadapi pemadaman listrik besar-besaran secara nasional. Perusahaan listrik negara Union Nacional Electrica de Cuba menyatakan bahwa gangguan terjadi karena sistem pembangkit listrik yang sudah tua dan kekurangan bahan bakar.

Di beberapa wilayah, pemadaman listrik bahkan bisa berlangsung hingga 20 jam per hari. Krisis tersebut diperparah oleh embargo minyak yang membuat Kuba kesulitan memperoleh pasokan energi.

Kondisi ekonomi negara itu juga semakin tertekan sejak terganggunya hubungan dengan sekutu utama mereka, Venezuela, yang sebelumnya dipimpin oleh Nicolas Maduro.

Akibat krisis bahan bakar, sejumlah maskapai penerbangan mulai mengurangi jadwal penerbangan ke Kuba. Hal ini turut memukul sektor pariwisata yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi negara tersebut.

Krisis listrik, kelangkaan bahan makanan, serta kekurangan obat-obatan memicu ketidakpuasan warga. Dalam beberapa hari terakhir, demonstrasi dilaporkan terjadi di berbagai wilayah dengan aksi warga memukul panci dan wajan sebagai bentuk protes.

Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengakui adanya ketidakpuasan masyarakat akibat pemadaman listrik berkepanjangan, namun ia mengimbau warga tetap menjaga ketertiban.

“Kami memahami ketidakpuasan rakyat, tetapi kekerasan tidak akan pernah bisa dibenarkan,” ujar Diaz-Canel melalui media sosial.

Di tengah situasi tersebut, pemerintah Kuba juga mulai membuka peluang investasi bagi warga Kuba yang tinggal di luar negeri, termasuk yang berada di Amerika Serikat, sebagai upaya meredakan tekanan ekonomi yang semakin berat.

Sumber: CNN Indonesia

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *