RBN || Jakarta
Harga tiket pesawat di Indonesia kembali menjadi sorotan, terutama untuk rute domestik jarak jauh seperti Jakarta–Aceh. Biaya penerbangan yang tinggi bahkan sempat disebut sebagai salah satu yang termahal di dunia.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin ikut mengeluhkan kondisi tersebut, khususnya saat pengiriman relawan kesehatan ke wilayah terdampak banjir bandang di Aceh pada periode libur Natal dan Tahun Baru. Menurutnya, mahalnya tiket membuat pengiriman relawan harus mencari jalur alternatif.
BGS menjelaskan pengiriman relawan kesehatan dilakukan secara rotasi setiap dua pekan. Jumlah relawan yang dikirim mencapai ratusan hingga sekitar seribu orang setiap minggu untuk melayani ratusan desa dan ribuan titik pengungsian.
Ia menyebut tenaga kesehatan lokal di Aceh juga terdampak bencana sehingga membutuhkan bantuan tambahan dari luar daerah. Kondisi ini menuntut pengiriman relawan dalam jumlah besar dan berkelanjutan.
Tiket Ke Aceh Tembus 10 Juta Saat Nataru
Menurut Menkes diwartakan Kompas.com, Selasa (13/1), akses penerbangan menuju wilayah terdampak di Aceh umumnya melalui Medan, bukan langsung ke Banda Aceh. Masalah muncul ketika lonjakan penumpang ke Medan terjadi bersamaan dengan musim liburan Natal dan Tahun Baru.
Pada periode tersebut, kebijakan diskon tiket pesawat justru membuat kursi penerbangan cepat habis oleh penumpang umum. Relawan kesehatan kesulitan mendapatkan tiket ekonomi dan hanya tersisa tiket kelas bisnis dengan harga tinggi.
Menkes mengatakan seluruh relawan, mulai dari yang dikirim pemerintah daerah, rumah sakit, fakultas kedokteran, hingga Ikatan Dokter Indonesia, mengalami kendala serupa. Harga tiket langsung ke Aceh pada akhir tahun lalu bahkan sempat mencapai kisaran Rp10 juta, jauh di atas harga normal yang biasanya berada di bawah Rp3 juta.
Penerbangan ke Tanah Rencong dilayani sejumlah maskapai seperti Garuda Indonesia, Pelita Air, Super Air Jet, Batik Air, dan Lion Air. Namun keterbatasan kursi dan tingginya harga membuat jalur tersebut sulit diakses relawan.
Sebagai solusi sementara ketika itu, pengiriman relawan akhirnya dilakukan dengan rute Jakarta–Malaysia terlebih dahulu sebelum menuju Aceh. BGS menyebut tiket ke Malaysia saat itu malahan jauh lebih murah, berkisar Rp2 juta hingga Rp3 juta, sehingga dianggap lebih realistis dibandingkan penerbangan langsung.
“Karena kita, yang penting jalan kan, kita kirim lewat Malaysia, karena murah tuh kirim lewat Malaysia. Tiketnya bisa Rp 2 juta, Rp 3 juta,” sebutnya.
Kondisi mahalnya tiket tersebut, menurutnya, hanya bersifat sementara dan kini telah kembali normal. Ke depan, ia mendorong adanya kebijakan khusus berupa harga tiket pesawat yang lebih terjangkau bagi relawan yang bertugas ke daerah bencana.
Sumber : CNA











