RBN || Jakarta
31 Agustus 2025, Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, resmi mengumumkan penonaktifan Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach dari keanggotaan DPR RI melalui Fraksi NasDem. Pengumuman yang disampaikan pada Minggu (31/8) ini menjadi salah satu keputusan politik penting di internal partai, sekaligus menandai dinamika baru yang mencuri perhatian publik.
Keputusan ini langsung menimbulkan gelombang reaksi, terutama di media sosial. Banyak warganet menilai langkah Surya Paloh masih terkesan setengah hati. Pasalnya, kedua politisi itu hanya dinonaktifkan sementara, bukan diberhentikan secara permanen melalui mekanisme pergantian antar waktu (PAW).
“Nonaktif doang, setengah hati banget,” tulis salah satu komentar yang ramai dibagikan. Sementara komentar lain menegaskan, “Kalau memang ingin tegas, ya PAW, jangan sekadar nonaktif.”
Gelombang suara publik ini memperlihatkan bagaimana masyarakat kini semakin kritis dalam menilai sikap partai politik, khususnya dalam hal transparansi dan integritas kader.
Tidak sedikit yang mendesak agar NasDem memberikan penjelasan terbuka mengenai alasan di balik keputusan ini, sekaligus kepastian apakah penonaktifan akan berlanjut ke tahap PAW atau berhenti di tengah jalan.
Di sisi lain, langkah Surya Paloh tetap dinilai penting karena menunjukkan adanya evaluasi internal. Penonaktifan ini bisa dilihat sebagai upaya partai untuk menjaga citra dan soliditas, terutama ketika sorotan publik terhadap perilaku elit politik semakin tajam. Namun, tanpa penjelasan detail, keputusan ini berisiko dianggap hanya sebagai strategi meredam kritik sesaat.
Pengamat politik menilai, keputusan semacam ini biasanya diambil untuk menyeimbangkan kepentingan partai sekaligus menjaga stabilitas internal. Ahmad Sahroni, yang dikenal sebagai politisi flamboyan dengan latar belakang pebisnis, dan Nafa Urbach, selebritas yang masuk dunia politik, merupakan figur publik yang memiliki sorotan tinggi. Karena itu, setiap langkah partai terhadap keduanya pasti menimbulkan atensi besar.
Kini, publik menunggu kejelasan lebih lanjut dari DPP NasDem. Apakah langkah ini akan diikuti dengan PAW, ataukah hanya sekadar penonaktifan yang sifatnya sementara. Tekanan warganet yang meminta ketegasan tampaknya akan menjadi ujian bagi NasDem dalam menunjukkan komitmen terhadap prinsip tata kelola partai yang bersih dan transparan.
Pada akhirnya, dinamika ini tidak hanya soal dua nama besar yang dinonaktifkan, tetapi juga menyangkut kepercayaan publik terhadap partai politik. Di tengah meningkatnya skeptisisme masyarakat, keputusan Surya Paloh ini akan menjadi catatan penting: apakah NasDem benar-benar serius menegakkan disiplin kader, atau justru terjebak pada manuver politik yang ambigu.











