Stop Menitipkan Bahagia: Remote Hidup Tak Pernah Milik Orang Lain

  • Share
ilustrasi
ilustrasi

RBN || Jakarta

Tanpa banyak disadari, banyak orang menyerahkan kendali kebahagiaannya kepada lingkungan sekitar. Harapan orang-orang di tempat kerja, rumah, dan platform media sosial adalah agar orang lain berubah sehingga mereka dapat memiliki kedamaian. Mungkin terasa berat untuk memiliki opini, sikap, atau keputusan eksternal, dan kemudian siapa yang harus berubah adalah pertanyaannya. Realitas sosialnya adalah orang-orang memiliki sedikit atau bahkan tidak ada pengaruh terhadap tindakan orang lain.

Psikologi kognitif juga mengungkapkan bahwa respons kita terhadap suatu situasi adalah satu-satunya hal yang dapat kita pengaruhi sepenuhnya. Hidup tidak akan berhenti sampai perasaan kita berakhir. Hal-hal yang dilakukan orang lain dapat menyakiti kita, dan kemudian mereka akan terus melakukannya, sistem akan menekan kita dan terus berlanjut, dan linimasa digital akan menghakimi kita dan terus berlanjut ke masalah berikutnya. Dunia mengalami penderitaan nyata, tetapi penderitaan itu terus berlanjut dengan kecepatannya sendiri.

Reaksi emosional orang menjadi bermasalah ketika mereka membiarkan emosi mereka mendominasi mereka. Kekuasaan atas kehidupan secara bertahap bergeser pada titik itu. Emosi negatif masih dapat digunakan sebagai tombol yang dapat diaktifkan orang kapan saja, dan ini membangun penjara sunyi yang kita kendalikan sendiri. Alasan mengapa banyak orang terjebak dalam perangkap seperti itu adalah karena model lokus kendali menunjukkan hal tersebut. Jika lokus kendali bersifat eksternal, perasaan dikendalikan oleh komentar orang lain, harga diri berakar pada persetujuan, dan kedamaian bergantung pada keramahan lingkungan.

Namun, seberapa baik kita merespons secara internal yang menentukan keberhasilan hubungan, penilaian yang tepat, dan kekuatan mental. Mereka yang memberikan peringkat tinggi pada pengalaman hidup negatif seperti itu juga didukung oleh psikologi. Dua orang mungkin mengalami kondisi yang identik tetapi perasaan mereka akan berbeda karena penilaian mereka bukanlah respons yang telah ditentukan sebelumnya tetapi keterampilan yang dapat dilatih. Pandangan ini sama dengan pandangan Viktor Frankl. Ia mengamati bahwa antara suatu hal yang terjadi (stimulus) dan respons kita terdapat ruang, dan ruang itu adalah kebebasan kita.

Dalam keseharian, perbudakan emosi sering tampak biasa dan bahkan dianggap wajar. Pesan dibalas dengan nada tinggi karena terpancing, pekerjaan ditunda karena tersinggung, sindiran dilontarkan demi pembenaran, atau kejadian buruk diputar berulang-ulang di kepala sampai tubuh ikut lelah. Pola pikir otomatis seperti “mereka harus menghargai aku” atau “kalau aku diam berarti kalah” mendorong respons yang justru merugikan diri sendiri. Ketika pola ini disadari, pilihan lain terbuka: menetapkan batas tanpa meledak, menolak tanpa merendahkan, berbicara tegas atau memilih menjauh dengan kepala tegak, serta menerima bahwa tidak semua orang akan memberi penjelasan yang memuaskan.

Era digital mempercepat penyerahan kendali itu. Like, komentar, dan viral menjadi tolok ukur yang tampak konkret, tetapi rapuh dan berubah-ubah. Menggantungkan ketenangan pada penilaian eksternal sama artinya memberi hak veto atas harga diri. Kebebasan emosional menuntut arah sebaliknya: membangun pusat kendali di dalam diri, lalu berelasi dengan dunia tanpa menitipkan kunci kebahagiaan kepada siapa pun. Jika diringkas, jawabannya sederhana namun menentukan. Yang perlu berubah adalah cara kita memegang kendali.

Kita tidak bisa mengontrol mereka, tetapi kita bisa mengontrol keputusan, kata-kata, batas, dan cara merawat diri setelah dilukai. Orang boleh menyakitkan, dunia boleh cuek, tetapi hidup kita tidak harus menjadi panggung reaksi. Saat kendali kembali ke diri sendiri, kita tidak sedang mengalah, kita sedang mengambil kembali hak paling dasar: memilih menjadi bebas.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *