Rupiah Tembus Rp17.900 per Dolar AS, Pengamat Soroti Lonjakan Harga Minyak dan Gejolak Timur Tengah

  • Share
Ilustrasi. (Foto: Okezone)

RBN || Jakarta

Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan menembus level Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Pelemahan mata uang Garuda tersebut dinilai dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik yang masih membebani pasar keuangan.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assu’aibi mengatakan, salah satu pemicu utama pelemahan rupiah adalah kenaikan harga minyak dunia yang dipengaruhi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Menurut Ibrahim, lonjakan harga minyak membuat kebutuhan dolar AS untuk kegiatan impor energi meningkat, sehingga memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

“Kita melihat bahwa apa kenaikan harga minyak mentah ini membuat permintaan dolar cukup tinggi, terutama adalah untuk impor minyak yang begitu besar,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (3/6/2026).

Ia menjelaskan, harga minyak mentah dunia terus bergerak naik. Pada perdagangan hari ini, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat mencapai 94,77 dolar AS per barel atau naik 1,08 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Sementara itu, harga minyak Brent juga meningkat hingga menyentuh level 96,72 dolar AS per barel.

Kenaikan harga energi tersebut, lanjut Ibrahim, turut berdampak pada inflasi di Amerika Serikat. Kondisi itu berpotensi membuat bank sentral AS mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.

“Harga-harga konsumsi, ya termasuk BBM, gasoline di Amerika terus mengalami kenaikan sehingga berdampak terhadap mempertahankan suku bunga, bahkan bisa menaikkan suku bunga,” tambahnya.

Ibrahim memperkirakan tekanan terhadap rupiah belum akan mereda dalam waktu dekat. Pasalnya, Federal Reserve masih memiliki peluang untuk kembali menaikkan suku bunga acuan tahun ini guna menjaga inflasi tetap terkendali.

Menurutnya, kondisi pasar tenaga kerja di Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan dalam pengambilan kebijakan moneter Negeri Paman Sam tersebut.

“Sehingga Bank Sentral Amerika kemungkinan besar ini akan mempertahankan suku bunga dan bisa menaikkan suku bunga dalam tahun ini satu kali,” tambahnya.

Berdasarkan data perdagangan hingga pukul 11.00 WIB, rupiah tercatat berada di level Rp17.930 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan pelemahan sekitar 0,51 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya dan melemah sekitar 9,9 persen secara tahunan.

Tekanan dari tingginya kebutuhan impor energi, kenaikan harga minyak global, serta potensi kebijakan suku bunga ketat di Amerika Serikat diperkirakan masih menjadi tantangan utama bagi pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan.

Sumber: Okezone

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *