RBN || Jakarta
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai memberikan tekanan pada sektor susu nasional. Pemerintah mengakui kondisi tersebut berpotensi memengaruhi harga bahan baku susu impor yang hingga kini masih mendominasi pasokan kebutuhan dalam negeri.
Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Widyastuti, mengatakan ketergantungan Indonesia terhadap susu impor masih cukup tinggi. Saat ini, sekitar 80 persen kebutuhan susu nasional masih dipenuhi dari luar negeri, sementara produksi dalam negeri baru mampu menyumbang sekitar 20 persen.
“Misalnya ini kan ada posisi tadi 20 persen di dalam (negeri), berarti 80 persennya impor, berarti menjaga ketersediaan pasokan susu impor itu tetap ada,” ujar Widyastuti dalam konferensi pers Hari Susu Nusantara di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Menurutnya, pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengurangi dampak kenaikan biaya impor akibat melemahnya rupiah. Salah satu strategi yang ditempuh adalah memperkuat kontrak pembelian jangka panjang dengan pemasok luar negeri agar harga tetap lebih stabil dan tidak terlalu terpengaruh fluktuasi pasar.
“Kemudian kita lakukan dengan diversifikasi terhadap negara yang memang tidak mempunyai dampak langsung terkait hal tersebut,” katanya.
Selain mencari alternatif negara pemasok, pemerintah juga mendorong efisiensi rantai pasok guna menekan biaya distribusi, logistik, dan penyimpanan. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu menjaga harga susu tetap terkendali di tingkat konsumen.
Di sisi lain, pemerintah menilai peningkatan produksi susu dalam negeri menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Widyastuti menekankan pentingnya dukungan pembiayaan bagi peternak sapi perah agar mereka dapat meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas usaha peternakan.
“Kita sih berharap adanya juga dukungan dari pembiayaan yang bisa di mana ada kredit yang mempunyai bunga rendah untuk sisi peternak, sehingga peternak itu semakin termotivasi dan untuk melakukan produksi lebih bagus lagi, dan kemudahan akses bagi peternak,” jelasnya.
Tak hanya memengaruhi harga susu, pelemahan rupiah juga berdampak pada biaya pengadaan sapi perah impor. Kenaikan harga tercatat pada sapi perah yang didatangkan dari dua negara pemasok utama, yakni Australia dan Selandia Baru.
Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementerian Pertanian, Makmun, membenarkan adanya kenaikan harga sapi perah impor seiring perubahan nilai tukar mata uang.
Meski demikian, pemerintah memastikan berbagai langkah mitigasi terus dilakukan agar kenaikan biaya impor tidak langsung membebani masyarakat dan tetap menjaga ketersediaan susu nasional di tengah tantangan ekonomi global.
Sumber: Liputan6











