RBN || Jakarta
PT Pertamina (Persero) memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) nasional tetap aman dan terkendali. Perusahaan energi milik negara tersebut menegaskan bahwa stok BBM tidak akan langsung habis meskipun melewati batas ketahanan cadangan minimal 21 hari.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menjelaskan bahwa pemerintah menetapkan batas minimal cadangan energi nasional di kisaran 21 hingga 23 hari. Namun, Pertamina secara konsisten menjaga cadangan tersebut agar tetap berada di atas batas minimum. Bahkan, untuk beberapa jenis produk BBM, tingkat cadangan dapat mencapai hingga 35 hari.
Menurut Baron, angka tersebut bukan berarti pasokan akan habis setelah melewati periode tersebut. Sebaliknya, stok energi nasional terus bergerak karena pasokan baru secara rutin ditambahkan melalui produksi, pengolahan, dan distribusi yang berjalan berkelanjutan.
“Cadangan pemerintah menjadi ambang batas pengamanan yang harus selalu dipertahankan. Selama distribusi dan pasokan berjalan normal, stok akan terus diperbarui sehingga cadangan tetap terjaga. Ini merupakan langkah mitigasi risiko sekaligus komitmen Pertamina dalam menjaga ketahanan energi nasional,” ujar Baron dalam keterangan resmi, Jumat (6/3).
Untuk memastikan pasokan tetap stabil, Pertamina memanfaatkan sistem pemantauan digital terintegrasi bernama Pertamina Digital Hub. Sistem ini memungkinkan pengawasan menyeluruh terhadap rantai pasok energi, mulai dari sektor hulu hingga hilir.
Di sektor hulu, operasional produksi dijalankan sesuai standar guna memastikan target produksi setiap entitas dapat tercapai. Sementara di sektor hilir, sistem digital tersebut mampu memantau pergerakan kapal pengangkut minyak mentah maupun produk BBM, termasuk proyeksi waktu kedatangan bahan baku yang akan diolah di enam kilang milik Pertamina.
Teknologi ini juga memungkinkan pemantauan distribusi hingga tingkat penjualan. Pertamina dapat memonitor pergerakan mobil tangki yang mengirim BBM ke SPBU serta mengetahui jumlah stok yang tersedia di setiap titik distribusi.
Melalui dashboard terintegrasi, Pertamina mampu menganalisis pola konsumsi BBM dan LPG di berbagai wilayah. Dengan demikian, langkah antisipatif dapat segera dilakukan ketika terjadi lonjakan permintaan, kondisi cuaca ekstrem, maupun dinamika global yang berpotensi memengaruhi rantai pasok energi nasional.
Sumber: CNN Indonesia











