Peradilan Adat untuk Pandji Pragiwaksono, Tegaskan Harmoni dan Tanggung Jawab Budaya

  • Share
Proses Peradilan Adat Toraja oleh 32 Wilayah Adat Toraja terhadap Komika Pandji Pragiwaksono. (Foto: Arsyad/Karebatoraja)

RBN || Sangalla

Prosesi peradilan adat terhadap komika Pandji Pragiwaksono digelar secara khidmat di Tongkonan Layuk Kaero, Lembang Kaero, Kecamatan Sangalla’, Tana Toraja, Selasa (10/2/2025). Sidang adat tersebut dihadiri perwakilan 32 wilayah adat se-Toraja serta didampingi kuasa hukum Pandji, Haris Azhar.

Peradilan dipandu hakim adat melalui mekanisme tanya jawab terbuka. Para perwakilan masyarakat diberi kesempatan menyampaikan pertanyaan langsung terkait materi stand-up comedy Pandji yang dinilai menyinggung adat dan budaya Toraja.

Dalam forum tersebut, Pandji secara terbuka mengakui kekeliruan dalam proses riset materi. Ia menyampaikan bahwa referensi yang dikumpulkannya tidak lengkap sehingga memunculkan kesalahpahaman dan ketersinggungan.

“Saya menerima semua keputusan yang diberikan dan semoga ini menjadi kesempatan bagi saya untuk lebih baik lagi. Saya berjanji ini terakhir kalinya saya melakukan hal serupa,” ujar Pandji di hadapan majelis dan masyarakat adat.

Setelah sesi tanya jawab berlangsung hingga siang hari, tujuh hakim adat bermusyawarah untuk menentukan putusan. Hasilnya, Pandji dijatuhi sanksi adat berupa kewajiban memotong satu ekor babi dan lima ekor ayam sebagai bentuk tanggung jawab dan pemulihan harmoni.

Putusan dibacakan oleh Ketua Gora-Gora Tongkonan selaku juru bicara, Sam Barumbun. Dalam penyampaiannya ditegaskan bahwa apabila di kemudian hari terjadi pelanggaran serupa yang berdampak buruk bagi Toraja, maka konsekuensi adat yang lebih berat dapat diberlakukan.

Empat ekor ayam telah dipotong saat prosesi berlangsung, sementara satu ekor ayam dan seekor babi dijadwalkan dipotong pada Rabu (11/2/2026) di lokasi yang tidak jauh dari Tongkonan Layuk Kaero.

Peristiwa ini menjadi refleksi penting tentang tanggung jawab publik figur terhadap sensitivitas budaya. Di sisi lain, mekanisme peradilan adat Toraja menunjukkan bagaimana nilai musyawarah, penghormatan, dan pemulihan keharmonisan tetap dijunjung tinggi dalam menyelesaikan persoalan secara bermartabat.

Sumber: Karebatoraja

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *