RBN||Bengkulu
Suara gemericik air dan denting ompreng yang saling bersentuhan menjadi bagian dari keseharian seorang pria bernama Exsa Sarfalin. Di sudut dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Padang Serai Bengkulu, ia berdiri, mencuci peralatan makan dalam jumlah tak sedikit.
Pekerjaan yang mungkin terlihat sederhana, namun menyimpan cerita panjang tentang perjuangan hidup. Di usia 21 tahun, Exsa memikul tanggung jawab besar. Ia menjadi tulang punggung bagi empat adiknya yang masih sekolah, sekaligus menopang kehidupan neneknya yang telah berusia 80 tahun yang masih aktif berjualan kecil di kantin.
Sebelum bekerja di SPPG, hari-hari Exca dipenuhi ketidakpastian. Ia menjalani berbagai pekerjaan serabutan, mulai menjadi tukang, buruh panggilan, hingga menerima pekerjaan apa saja yang bisa menghasilkan uang.
“Kesehariannya itu terkadang kernet, tukang. Sebelum ada SPPG, itu kadang-kadang merasa khawatir. Karena kerjaan ngernet ataupun tukang itu kan enggak selalu ada. Sedangkan saya sendiri itu harus nge-backup tiga adik saya yang masih sekolah. Waktu ngernet itu, waktu itu Rp115 ribu. Cuman itu enggak setiap hari. Kadang-kadang itu dua hari sekali,” ungkap Exsa ditemui di Bengkulu, Kamis (16/4).
Dalam sehari, ia membutuhkan setidaknya Rp100 ribu untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga. Namun penghasilan yang tidak menentu membuatnya kerap diliputi kecemasan. Di masa-masa sulit itu, Exsa tak jarang mencoba berbagai cara untuk bertahan.
Exsa pernah ikut membantu teman menjalankan jasa joki gim, menerima pekerjaan bersih-bersih, hingga pekerjaan kecil lain yang datang. Titik balik hidupnya terjadi ketika kedua orang tuanya berpisah. Jika sebelumnya kebutuhan hidup masih terpenuhi, kondisi berubah drastis saat ia harus berdiri sendiri.
“Kalau dibilang itu titik terendahnya waktu awal-awal orang tua sudah pisah. Di situ yang dari dulu saya awalnya semua dibelikan, apa-apa diturutin gitu. Nah, tiba-tiba harus ngejalanin pa-apa sendiri, nyari uang sendiri, nyari makan sendiri. Kalau dibilang belum siap, ya harus siap,” katanya.
Sejak itu, nenek menjadi tempatnya bercerita. Di tengah kebingungan dan tekanan hidup, sosok lansia itulah yang selalu mendengarkan keluh kesahnya. Perubahan mulai datang ketika ia melihat sebuah bangunan di dekat rumahnya direnovasi.
Rasa penasaran membawanya mencari tahu, hingga ia mengetahui tempat itu akan dijadikan SPPG. Tanpa ragu, Exsa langsung mencari informasi dan mendaftar. Kini, dengan pekerjaan tetap di SPPG, ia mendapatkan penghasilan yang lebih pasti.
Sistem gaji dua mingguan memberinya ruang untuk mengatur keuangan keluarga secara lebih terencana. Uang tersebut ia gunakan untuk membeli sembako, membayar kebutuhan sekolah adik-adiknya, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.
“Enggak perlu was-was lagi untuk besoknya bagaimana. Besoknya dapat uangnya berapa gitu. Karena secara tidak langsung di dapur ini sudah dua minggu sekali gajinya. (Intinya) banyaklah perubahan yang dirasakan mulai dari ekonomi yang mulai membaik,” ujarnya.
Tak hanya dari sisi pekerjaan, keluarga Exsa juga merasakan manfaat dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Keempat adiknya kini mendapatkan makanan di sekolah, yang sedikit meringankan beban pengeluaran.
“Kayak yang awalnya sebelum ada MBG, uang jajannya habis terus, sekarang bisa ditabung. Bisa kayak beli-beli yang lain,” ucap Exsa.
Ia juga melihat perubahan pada kondisi fisik dan aktivitas adik-adiknya. Nafsu makan meningkat, tubuh mulai lebih berisi, dan mereka menjadi lebih aktif dalam keseharian.
Meski sesekali adik-adiknya mengeluhkan menu yang terasa berulang, Exsa selalu mengingatkan untuk tetap bersyukur. Di balik kesibukannya mencuci ompreng setiap hari, Exsa kini tidak lagi sepenuhnya dihantui rasa cemas akan hari esok. Ia masih harus bekerja keras, tetapi setidaknya ada kepastian yang bisa dipegang.
Baginya, pekerjaan di SPPG dan kehadiran Program MBG bukan hanya soal penghasilan atau makanan. Lebih dari itu, keduanya memberi harapan bahwa di tengah keterbatasan, selalu ada jalan untuk bertahan, dan perlahan, untuk bangkit.
*Biro Hukum dan Humas*
*Badan Gizi Nasional*











