RBN || Jakarta
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menurunkan radius rekomendasi bahaya di sekitar kawah Gunung Slamet setelah hasil pemantauan terbaru menunjukkan kondisi termal gunung tersebut relatif stabil.
Pemantauan menggunakan teknologi pesawat nirawak (drone) termal menunjukkan suhu solfatara di kawah Gunung Slamet tidak mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengatakan hasil pengukuran yang dilakukan berulang kali mencatat suhu solfatara berkisar antara 407,2 derajat Celsius hingga 478,7 derajat Celsius.
“Berdasarkan hasil beberapa kali pengukuran suhu menggunakan drone termal, suhu solfatara kawah berfluktuasi antara 407,2 derajat Celcius hingga 478,7 derajat Celcius, tanpa menunjukkan tren peningkatan yang signifikan,” ujar Lana di Jakarta, Kamis (4/5).
Menurut Lana, kestabilan suhu tersebut menjadi salah satu indikator penting yang mendasari evaluasi radius bahaya di kawasan Gunung Slamet. Data hasil pemantauan selama periode 4 April hingga 3 Juni 2026 menunjukkan tidak ada peningkatan aktivitas vulkanik yang berlangsung secara terus-menerus di sistem kawah gunung setinggi 3.432 meter di atas permukaan laut tersebut.
Ia menjelaskan kondisi saat ini berbeda dibanding awal April lalu. Pada saat itu, citra termal sempat merekam perluasan anomali panas berbentuk melingkar di sekitar dinding kawah yang diduga dipicu oleh meningkatnya aktivitas pelepasan gas atau degassing.
Meski suhu di area solfatara masih tergolong tinggi, tren yang cenderung stabil membuat Badan Geologi memutuskan untuk mengurangi radius aman dari sebelumnya tiga kilometer menjadi dua kilometer dari pusat kawah.
Namun demikian, status aktivitas Gunung Slamet masih tetap berada pada Level II atau Waspada. Hal ini karena sejumlah parameter vulkanik belum sepenuhnya kembali ke kondisi normal atau tingkat dasar aktivitas gunung api.
Lana menegaskan pemantauan intensif tetap dilakukan guna mengantisipasi kemungkinan perubahan aktivitas vulkanik di kemudian hari.
Menurutnya, pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di wilayah sekitar Gunung Slamet diharapkan terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Slamet di Desa Gambuhan, Kabupaten Pemalang. Koordinasi tersebut diperlukan untuk memantau perkembangan suhu kawah dan suplai energi dari dalam perut bumi yang dapat menjadi indikator perubahan aktivitas gunung api.
Dengan kondisi terkini yang relatif stabil, masyarakat dan pengunjung tetap diminta mematuhi rekomendasi yang telah ditetapkan serta tidak beraktivitas dalam radius dua kilometer dari pusat kawah Gunung Slamet demi menjaga keselamatan.
Sumber: Antara News











