Peningkatan Pembiayaan Gagal Ginjal di Indonesia Meningkat Tajam, Pemerintah Luncurkan Kebijakan Nutri-Level

  • Share
Foto: Liputan6.com/Ade Nasihudin

RBN || Jakarta

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan adanya lonjakan pembiayaan untuk penyakit ginjal kronik stadium akhir atau gagal ginjal dalam lima tahun terakhir. Menurut Budi, pembiayaan untuk gagal ginjal pada tahun 2019 tercatat sebesar Rp 2,32 triliun. Namun, pada 2025, jumlah tersebut melonjak tajam menjadi Rp 13,38 triliun.

“Pembiayaan untuk gagal ginjal ini naik hingga 476 persen dalam lima tahun terakhir,” kata Budi dalam rapat kerja bersama DPR pada Senin, 20 April 2026.

Untuk menanggulangi lonjakan kasus gagal ginjal, pemerintah mengeluarkan kebijakan nutri-level pada produk pangan dan minuman kemasan. Kebijakan ini bertujuan untuk membantu masyarakat memilih produk yang lebih sehat, termasuk yang memiliki kadar gula lebih rendah.

“Ginjal itu penyebab utamanya adalah gula, maka kita ingin menekan konsumsi gula,” ujar Budi.

Budi juga menekankan bahwa pembiayaan untuk gagal ginjal menempati urutan kedua dalam anggaran BPJS Kesehatan pada 2025, setelah penanganan penyakit jantung yang menghabiskan Rp 17,3 triliun. Di bawah gagal ginjal, ada biaya untuk penanganan kanker yang mencapai Rp 10,3 triliun.

Walaupun pembiayaan gagal ginjal berada di urutan kedua, jumlah pasien gagal ginjal hanya sekitar 640 ribu orang, jauh lebih sedikit dibandingkan pasien jantung yang berjumlah sekitar 3 juta orang. Meskipun nominal kerugian lebih besar pada penanganan jantung, biaya per orang untuk gagal ginjal lebih besar.

“Walaupun kerugian nominal lebih besar untuk jantung, pembiayaan per orang untuk gagal ginjal lebih tinggi,” jelas Analis Kebijakan Penjaminan Manfaat Rujukan Pratama BPJS Kesehatan, drg. Tiffany Monica.

Tiffany menambahkan, pembiayaan penyakit ginjal cukup besar karena terapi yang dibutuhkan sangat beragam dan berkelanjutan. Salah satunya adalah hemodialisis (cuci darah) yang dilakukan dua hingga tiga kali dalam seminggu, serta transplantasi ginjal yang memerlukan obat-obatan mahal setiap bulannya.

BPJS Kesehatan juga mencatat, pada 2025, kasus gagal ginjal paling banyak ditemukan pada pasien laki-laki, terutama pada kelompok usia 50 hingga 60 tahun. Namun, ada temuan yang mengejutkan terkait munculnya kasus gagal ginjal pada kelompok usia produktif. Berdasarkan data klaim, beberapa pasien berusia belasan hingga 20-an tahun juga tercatat mengalami gangguan ginjal.

“Di usia belasan hingga 20-an tahun, kita sudah menemukan pasien dengan gagal ginjal. Walaupun belum tahu stadium berapa, namun dari stadium 3, 4, hingga 5 juga tercatat di sini,” ujar Tiffany.

Sumber: Liputan6

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *