RBN || Temanggung
Musim panen kopi tahun 2026 menjadi tantangan berat bagi para petani di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Produksi kopi robusta maupun arabika dilaporkan mengalami penurunan signifikan, bahkan mencapai 40 hingga 60 persen dibandingkan hasil panen tahun sebelumnya.
Penurunan produksi tersebut dipicu kondisi cuaca yang tidak menentu saat tanaman kopi memasuki masa pembungaan. Curah hujan yang tinggi membuat banyak bunga kopi gagal berkembang menjadi buah, sehingga berdampak langsung pada hasil panen petani.
Kepala Bidang Perkebunan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Temanggung, Sumarno, menjelaskan bahwa cuaca ekstrem menjadi faktor utama menurunnya produktivitas tanaman kopi tahun ini.
“Penurunan tersebut disebabkan cuaca ekstrem pada saat fase pembungaan kopi, sehingga banyak bunga gagal berkembang menjadi buah karena curah hujan yang tinggi,” kata Sumarno, Sabtu (6/6/2026).
Meski jumlah produksi menurun, kondisi berbeda justru terjadi pada harga kopi arabika. Harga jual kopi cherry arabika mengalami kenaikan dibandingkan musim panen sebelumnya.
Saat ini, harga cherry arabika di tingkat petani berada pada kisaran Rp20 ribu hingga Rp22 ribu per kilogram. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang hanya berada di sekitar Rp15 ribu per kilogram.
Menurut Sumarno, kenaikan harga bahan baku kopi tersebut berpotensi memengaruhi harga produk kopi olahan di pasaran. Jika tren harga terus bertahan, konsumen kemungkinan akan menghadapi kenaikan harga berbagai produk berbahan dasar kopi arabika dalam beberapa waktu ke depan.
Di tengah menurunnya hasil panen, kenaikan harga diharapkan dapat membantu petani menutupi sebagian kerugian akibat berkurangnya produksi. Namun demikian, para petani tetap berharap kondisi cuaca pada musim berikutnya lebih bersahabat agar produktivitas kebun kopi Temanggung dapat kembali meningkat.
Sumber: JPNN











