Menuju Kalender Islam Global, Muhammadiyah Dorong Persatuan Umat Lewat KHGT

  • Share
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir. (Foto: CNN Indonesia/Tunggul)

RBN || Yogyakarta

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan komitmen organisasinya dalam mendorong penyatuan penanggalan Islam melalui Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT). Upaya ini terus diperkuat melalui dialog intensif, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Usai melaksanakan Salat Idulfitri 1447 Hijriah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (20/3), Haedar menyampaikan bahwa langkah konkret menuju kesatuan kalender Islam tengah diupayakan secara bertahap dan berkelanjutan.

“Dialog akan terus dilakukan dengan berbagai organisasi, sekaligus melanjutkan inisiatif yang telah dirintis di level global,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Tim Tarjih Muhammadiyah selama setahun terakhir aktif mensosialisasikan konsep KHGT yang disusun berdasarkan Kriteria Turki 2016. Konsep ini menekankan keseragaman tanggal dalam satu hari yang sama di seluruh dunia, meskipun terdapat perbedaan waktu pelaksanaan ibadah di masing-masing wilayah.

Menurut Haedar, kesatuan kalender Islam bukan sekadar persoalan teknis, melainkan juga simbol persatuan umat. Dengan sistem berbasis hisab yang terintegrasi secara global, ia optimistis perbedaan penetapan hari besar keagamaan dapat diminimalkan di masa mendatang.

“Harapannya, umat Islam di seluruh dunia memiliki satu kalender yang sama, sehingga tidak lagi mengalami perbedaan dalam penentuan hari-hari penting,” tuturnya.

Sebagaimana diketahui, Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Penetapan ini didasarkan pada metode hisab hakiki wujudul hilal yang menjadi pedoman Majelis Tarjih dan Tajdid, serta tertuang dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/1.0/E/2025.

Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan Idulfitri 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, berdasarkan hasil sidang isbat.

Perbedaan tersebut kembali menjadi pengingat bahwa dialog terbuka, pendekatan ilmiah, serta semangat persatuan menjadi kunci dalam merajut keseragaman di masa depan.

Sumber: CNN Indonesia

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *