RBN || Jakarta
Suasana khidmat dan reflektif menyelimuti rangkaian Malam Sastra dalam perayaan Puja Wali ke-93 di Pura Aditya Jaya Rawamangun yang diselenggarakan oleh BEM STAH DNJ pada Sabtu, 4 April 2026 pukul 22.00–03.30 WIB, kegiatan bertema “Menunjukkan Makna Spiritual di Ruang Digital” ini diikuti oleh mahasiswa STAH DNJ serta masyarakat umum yang tetap antusias hingga dini hari.
Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua STAH DNJ Dr. Ni Gusti Ayu Ketut Kurniasari, M.Si, Pembina BEM I Made Jaya Negara, M.Fil.H, Kaprodi Ilmu Komunikasi Hindu Dian Syanita Utami Dewi, S.S., M.M , acara dibuka oleh Ketua SDHD Banjar Jakarta Timur Ir. Putu Maharta Adijadnya. Dalam sambutan singkatnya, pihak kampus dan Ketua SDHD Banjar Jakarta Timur menyampaikan harapan agar ke depan kegiatan serupa dapat menjangkau partisipasi yang lebih luas dengan melibatkan lebih banyak mahasiswa Hindu di Jakarta.
Dalam sesi pemaparan materi, narasumber pertama Putu Dedi Wijaya, M.I.Kom menyoroti dinamika Sradha dan Bhakti dalam ruang digital yang tidak dapat dilepaskan dari peran media sosial dan algoritma, ia menjelaskan bahwa sistem digital cenderung mendorong interaksi berbasis angka seperti komentar, jumlah share, dan waktu tonton, sehingga fenomena negative engagement seperti konflik, hujatan, dan hate watching justru kerap menjadi pemicu viralitas konten. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kesadaran pengguna dalam membangun konten yang bernilai serta tetap berlandaskan etika dan spiritualitas, “media sosial dan algoritma hanya menghitung frekuensi komentar, jumlah share, dan waktu tonton, sehingga kita harus cerdas dalam menyikapi agar tidak terjebak dalam arus negatif,” ujarnya.
Selanjutnya, narasumber kedua Made Bryan Pasek Maharta, S.Sos., M.A.P memaparkan peran Artificial Intelligence dalam penyiaran kultural serta pentingnya integrasi nilai-nilai Hindu Nusantara di tengah arus digitalisasi. Ia menjelaskan bahwa secara filosofis Hindu Nusantara memiliki benang merah berupa kemampuan beradaptasi dengan budaya lokal tanpa kehilangan esensi spiritual terhadap Sang Pencipta, yang tercermin dalam berbagai konsep seperti Aluk Todolo, Batang Garing, hingga Manunggaling Kawula Gusti. Ia juga menekankan pentingnya menghidupkan nilai Tat Twam Asi di ruang digital dengan menciptakan lingkungan yang berempati, bebas dari hoaks dan ujaran kebencian, serta menjunjung harmoni dalam keberagaman, menurutnya teknologi seperti AI dapat menjadi sarana strategis dalam penyebaran nilai budaya, namun tetap harus dibarengi dengan landasan etika agar tidak mengikis identitas.
Sementara itu, narasumber Dr. Agung Patera mengupas konsep komunikasi sekala dan niskala dalam kehidupan spiritual di era digital dengan menekankan pentingnya keseimbangan batin di tengah derasnya arus informasi. Ia menjelaskan bahwa manusia perlu memiliki mekanisme penyaring melalui kesadaran diri atau mulat sarira agar tidak mudah terpengaruh oleh distraksi dunia maya, serta menjaga koneksi spiritual melalui praktik doa dan refleksi diri.
Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa teknologi dan spiritualitas tidak seharusnya dipandang sebagai dua hal yang bertentangan, melainkan dapat bersinergi menuju kesatuan, sebagaimana konsep Rwa Bhineda yang menekankan keseimbangan dalam perbedaan. Menurutnya, teknologi harus dimanfaatkan sebagai sarana penyebaran dharma, sementara manusia tetap menjaga keheningan batin untuk mempertahankan hubungan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, hingga pada akhir pemaparannya beliau menegaskan bahwa “keseimbangan dalam perbedaan adalah kunci. Harmoni sejati tercipta ketika dunia maya tidak menenggelamkan dunia batin”.
Melalui kegiatan ini, Malam Sastra Puja Wali tidak hanya menjadi ruang diskusi intelektual, tetapi juga wadah refleksi spiritual yang mempertemukan nilai tradisi dengan perkembangan teknologi, sehingga diharapkan mampu memperkuat kesadaran generasi muda Hindu untuk tetap berakar pada nilai-nilai dharma di tengah arus transformasi digital yang terus berkembang.
Reportase: Maya











