Krisis Global Ancam Produksi Pangan Dunia, PBB Minta Solusi Cepat

  • Share
Foto: UN News/Daniel Dickinson

RBN || New York

Krisis global yang dipicu konflik di Timur Tengah mulai berdampak serius terhadap produksi pertanian dan ketahanan pangan dunia. Kondisi ini tidak hanya dirasakan oleh petani, tetapi juga pekerja migran di berbagai negara.

Kepala Ekonom Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), Máximo Torero, menyampaikan bahwa situasi saat ini membutuhkan penanganan segera.

“Waktu sangat menentukan saat ini dan waktu terus berjalan dengan sangat cepat. Saya pikir kita perlu menemukan solusi sesegera mungkin,” ujarnya dalam konferensi video dari Roma kepada jurnalis di Markas Besar PBB, New York.

Sejak konflik pecah, lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz dilaporkan menurun lebih dari 90 persen. Padahal, jalur tersebut biasanya dilalui sekitar 35 persen aliran minyak mentah dunia atau sekitar 20 juta barel per hari, 30 persen perdagangan pupuk global, serta seperlima pasokan gas alam cair.

Kondisi ini memicu tekanan ganda bagi sektor pertanian. Kenaikan harga pupuk dan bahan bakar, dua komponen utama produksi, membuat petani menghadapi situasi yang semakin sulit.

“Para petani menghadapi ‘guncangan ganda’ akibat kenaikan harga pupuk dan bahan bakar,” jelas Torero.

Menurutnya, jika solusi dapat ditemukan dalam waktu dekat, pasar berpotensi kembali stabil dalam sekitar tiga bulan. Namun, jika gangguan berlanjut, dampaknya akan semakin luas.

“Skenario jangka menengah dari blokade selama tiga bulan akan memengaruhi seluruh petani di dunia, dan kemudian akan muncul berbagai faktor yang berdampak pada musim tanam berikutnya,” katanya, merujuk pada potensi penurunan hasil panen dan perubahan pola produksi.

Selain itu, kenaikan harga minyak di atas 100 dolar AS per barel juga berpotensi meningkatkan persaingan dengan sektor biofuel. Meski petani bisa mendapat keuntungan, dampaknya justru negatif bagi konsumen.

“Meskipun petani akan diuntungkan, hal ini akan berdampak buruk bagi konsumen karena harga akan meningkat,” ujarnya.

Dalam jangka pendek, perhatian perlu difokuskan pada negara-negara seperti Sri Lanka dan Bangladesh yang sedang memasuki masa panen padi. Negara-negara Afrika yang bergantung pada impor pupuk juga dinilai sangat rentan.

Namun demikian, negara eksportir besar seperti Argentina, Brasil, dan Amerika Serikat juga tidak luput dari dampak krisis ini.

Di kawasan Teluk, Torero mencatat harga pangan di Iran sudah “melonjak sangat tinggi”. Meskipun Iran memproduksi sekitar 70 persen kebutuhan pangannya, sisanya masih bergantung pada impor.

Sementara itu, negara-negara pengimpor besar seperti Qatar dan Uni Emirat Arab menghadapi tantangan serius karena terhambatnya jalur pengiriman laut.

Krisis ini juga berdampak pada jutaan pekerja migran di kawasan Teluk yang berasal dari Asia Selatan dan Afrika Timur. Jika konflik berlanjut, pengiriman uang (remitansi) ke negara asal mereka berpotensi menurun.

Untuk mengurangi dampak krisis, Torero menekankan pentingnya membuka jalur pelayaran alternatif dalam waktu dekat.

“Kita perlu memberikan dukungan darurat terhadap neraca pembayaran bagi negara-negara yang bergantung pada impor sebelum musim tanam dimulai,” ujarnya.

Dalam jangka menengah, negara-negara juga didorong untuk mendiversifikasi sumber impor pupuk, memperkuat cadangan regional, serta menghindari pembatasan ekspor.

Sementara itu, dalam jangka panjang, peningkatan ketahanan sistem pangan menjadi hal yang krusial.

“Kita perlu memperlakukan sistem pangan dengan tingkat kepentingan strategis yang sama seperti sektor energi dan transportasi, serta berinvestasi untuk meminimalkan guncangan seperti ini,” pungkasnya.

Sumber: UN News

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *