Kolaborasi Gender: Jalan Rasional Menuju Kepemimpinan yang Tahan Uji Zaman

  • Share
Prof. Dr. Capt. Eddy Sumartono
Prof. Dr. Capt. Eddy Sumartono

RBN || Jakarta

Debat moral tentang kolaborasi gender untuk kesetaraan telah menjadi persyaratan strategis yang mendukung pengembangan struktur sosial, kerangka organisasi, dan sistem kepemimpinan yang berkelanjutan. Dalam Pandangan Prof. Dr. Capt. Eddy Sumartono, kolaborasi gender tidak bertujuan untuk menetapkan peran yang sama antara laki-laki dan Perempuan (pria dan Wanita) karena mengakui perbedaan biologis, psikologis, dan sosial mereka untuk kerja sama bersama.

Pendekatan ini menggunakan perbedaan antar kelompok untuk menciptakan kekuatan bersama tanpa menetapkan satu kelompok lebih baik daripada yang lain. Prof. Eddy menggunakan pengetahuannya dari ilmu pengetahuan, hukum, manajemen, dan urusan maritim untuk menunjukkan bahwa peradaban selalu maju melalui kerja sama kelompok yang setara. Organisasi gagal ketika mereka membiarkan satu perspektif mengendalikan operasi mereka menurut pengamatannya.

Penggunaan gaya kepemimpinan maskulin yang berfokus pada kontrol, hierarki, dan pengambilan keputusan cepat menciptakan kesuksesan jangka pendek tetapi melemahkan keberlanjutan organisasi melalui ketidakstabilan sosial. Kini, sudut pandang perempuan yang memiliki atribut bijaksana, empati, dan perspektif yang berorientasi waktu berfungsi sebagai penyeimbang yang diperlukan.

Dalam teori dan praktik, kolaborasi gender dipandang sebagai titik temu dua gaya kepemimpinan yang saling melengkapi. Laki-laki umumnya mahir dalam pengambilan keputusan cepat, pengambilan risiko, dan fokus pada target, sementara perempuan umumnya mahir dalam ketelitian, kepekaan sosial, dan kemampuan membangun konsensus. Ketika kedua metode tersebut digabungkan dalam proporsi yang sama, pendekatan pengambilan keputusan menjadi lebih matang, kebijakan menjadi lebih komprehensif, dan dampak sosial dari kebijakan tersebut meningkat dan meluas.

Kolaborasi gender bukan tentang menghilangkan perbedaan, tetapi tentang menanganinya dengan cara yang cerdas dan produktif. Pandangan ini bukan tanpa dasar. Berbagai studi empiris lintas negara menunjukkan bahwa lembaga pendidikan, entitas bisnis, dan lembaga pemerintah dengan kepemimpinan lintas gender cenderung lebih stabil, lebih adaptif terhadap krisis, dan memiliki lebih sedikit konflik internal. Statistik menunjukkan kepada Prof. Eddy bahwa informasi lengkap bukanlah tren sementara, tetapi kebutuhan permanen dalam masyarakat yang kompleks saat ini.

Kolaborasi gender memiliki nilai tinggi dalam konteks masyarakat Indonesia saat ini. Nilai kerja sama timbal balik yang menjadi dasar budaya nasional tidak memungkinkan satu kelompok untuk mengambil kendali penuh. Sistem sosial saat ini terus menetapkan peran publik berbasis gender kepada laki-laki dan peran domestik kepada perempuan.

Menurut Prof. Eddy, pembagian ini merugikan kepentingan perempuan dan merampas kesempatan bagi laki-laki untuk tumbuh menjadi pemimpin yang memiliki empati, pemahaman diri, dan keterampilan komunikasi yang baik. Beliau menekankan bahwa pendidikan berfungsi sebagai titik awal dasar untuk membangun kolaborasi gender. Ruang belajar di sekolah, lembaga pelatihan, dan kampus harus mempromosikan komunikasi yang setara, bukan berubah menjadi medan pertempuran ego yang kompetitif.

Ketika siswa terbiasa dengan peran lintas gender yang dipertimbangkan dan didistribusikan secara merata, mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan tetapi juga belajar bagaimana berkolaborasi di tempat kerja dan di masyarakat. Kolaborasi gender dipandang sebagai kebutuhan praktis oleh para pemimpin, bukan agenda politik. Saat ini terdapat degradasi lingkungan, ketidaksetaraan sosial, perselisihan geopolitik, dan disrupsi teknologi. Isu-isu ini memiliki banyak dimensi, dan membutuhkan berbagai pendekatan.

Hal ini membutuhkan pemikiran rasional yang dipadukan dengan empati, pengambilan keputusan yang berani dan kehati-hatian, serta keberanian yang dipadukan dengan risiko rendah, yang paling baik dikembangkan ketika pria dan wanita bekerja bersama sebagai setara. Profesor Eddy lebih lanjut menekankan bahwa kolaborasi gender membutuhkan kedewasaan. Pria tidak perlu merasa bahwa kekuasaan mereka berkurang karena ruang yang dibagi, dan wanita tidak perlu mengikuti pola kepemimpinan pria untuk dianggap kompeten.

Kolaborasi hanya akan membuahkan hasil ketika semua anggotanya otentik, menyadari kemampuan dan kelemahan mereka, dan berkomitmen pada tujuan bersama. Dalam jangka panjang, kolaborasi gender merupakan landasan moral dan taktis untuk masa depan.

Pada akhirnya, kolaborasi gender adalah fondasi etis sekaligus strategis bagi masa depan. Ia bukan slogan kosong tentang kesetaraan, melainkan jalan realistis menuju kepemimpinan yang manusiawi, kebijakan yang adil, dan peradaban yang berkelanjutan. Ketika laki-laki dan perempuan berhenti saling menegaskan ego, lalu memilih bekerja bersama untuk saling melengkapi, di situlah kemajuan sejati menemukan arahnya

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *