Kekuatan Jati Diri Seorang Dewi Hendriyani: Memimpin dengan Karakter dan Integritas

  • Share
Dokumen pribadi

RBN || Jakarta

Di tengah kemajuan yang terus berkembang di dunia pekerjaan dan kepemimpinan perempuan, Dr. I Gusti Ayu Dewi Hendriyani, A.Par., M.Par., adalah sosok yang membuktikan bahwa kekuatan jati diri perempuan bukan hanya terletak pada apa yang mereka capai, tetapi juga pada bagaimana mereka membawa diri dalam setiap langkah kehidupannya. Sebagai seorang perempuan asal Bali yang kini menjabat sebagai Asisten Deputi Manajemen Strategis (Asdep Manstra) di Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia, Dewi Hendriyani telah memperlihatkan bahwa mengenal jati diri adalah fondasi penting dalam menjalani karier serta memberikan kontribusi bagi masyarakat.

Lahir di Kota Denpasar pada tanggal 17 Februari 1972, Dewi membangun basis intelektualnya dengan sangat kokoh melalui pendidikan Perhotelan/Hospitaliti di Kampus Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bali – sekarang Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Bali – lanjut studi magister dan doktoral bidang pariwisata di kampus Universitas Udayana (UNUD), Bali. Namun, kecemerlangan akademis itu hanyalah instrumen untuk mewujudkan visi yang lebih besar. “Perempuan yang mengetahui siapa dirinya tidak hanya sekadar hadir di ruangnya, tetapi mereka memberi arti di mana pun mereka berada,” ujarnya, mengungkapkan pandangannya mengenai pentingnya kesadaran diri dalam kepemimpinan.

Dewi Hendriyani memulai perjalanan kariernya di dunia akademis, mengajar di kampus almamaternya, STP Bali, yang berada di bawah Kemenpar RI. Selama lebih dari tiga dekade sebagai ASN, ia berhasil meniti karier yang membawanya dari pengajar menjadi dosen, pernah menjabat sebagai Pembantu Ketua Bidang Kerja Sama selama 2 periode (7 tahun), hingga mengemban posisi strategis di Jakarta. Setiap langkah dalam perjalanan tersebut didorong oleh kesadarannya akan pentingnya integritas dan karakter dalam memimpin. “Kesadaran diri adalah kekuatan perempuan. Saat perempuan memahami ruang dan perannya, ia tidak hanya hadir, tetapi hadir dengan kontribusi yang dapat dirasakan oleh orang lain,” tambahnya. Ia yakin bahwa perempuan yang mengenal dirinya tidak hanya menghargai potensi diri, tetapi juga membuka peluang bagi banyak orang untuk berkembang bersama.

Sebagai seorang pemimpin, Dewi menunjukkan bahwa karakter dan integritas adalah kompas utama dalam pengabdian. Sebagai perempuan, ia percaya bahwa kesuksesan bukan hanya diukur dari jabatan yang ia sandang, melainkan sejauh mana ia dapat memberi manfaat bagi orang lain. “Saat kita dapat memberi, itulah saat kita benar-benar menemukan arti sejati dari apa yang telah kita perjuangkan,” ujarnya. Visi jangka panjang Dewi Hendriyani adalah terus berkontribusi pada lembaga yang ia geluti dan memberi inspirasi kepada perempuan lainnya. Ia berharap dapat menginspirasi lebih banyak generasi muda, untuk mengenali jati diri mereka dan berani mengembangkan potensi mereka di dunia yang lebih luas, baik melalui pendidikan maupun dalam karier.

Dalam perspektif kepemimpinan modern, Dewi mencerminkan pemikiran pakar manajemen Daniel Goleman, yang menekankan bahwa kesadaran diri adalah komponen pertama dari kecerdasan emosional. Goleman berpendapat bahwa pemimpin yang efektif memiliki tingkat kesadaran diri yang tinggi, memahami kekuatan serta keterbatasan mereka, dan mampu memimpin dengan otentisitas/keasliannya. Dewi menjalankan kepemimpinan dengan prinsip tersebut, konsisten dalam mendorong pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dan komunikasi strategis, yang ia anggap sebagai bentuk kontribusi nyata bagi kemajuan pariwisata nasional.

Keberhasilan Dewi dalam meniti karier di dunia pemerintahan tidak terlepas dari kesadarannya bahwa memahami peran dan tanggung jawab sebagai seorang perempuan adalah kunci untuk terus memberikan dampak positif bagi organisasi tempatnya berkontribusi. Rekam jejaknya yang mencakup berbagai penghargaan, seperti Penghargaan 30 tahun pengabdian sebagai ASN/Satyalancana Karya Satya dan pengakuan sebagai tokoh inovasi dan komunikasi dalam sektor pariwisata, menunjukkan bahwa dedikasi yang tulus akan selalu melahirkan prestasi yang organik dan berdampak.

Bagi Dewi, perjalanan lima tahun di pusat pemerintahan bukanlah sekadar pencapaian pribadi, melainkan sebuah misi untuk memberikan kebanggaan bagi diri sendiri, bagi keluarga dan menginspirasi bagi sesama perempuan. Ia yakin bahwa ruang peran perempuan tidak terbatas oleh letak geografis, melainkan oleh sejauh mana ia mampu memberikan dampak positif di mana pun ia berada. Dalam perjalanan ini, Dewi berupaya untuk mengharmonisasikan tuntutan profesionalitas dengan nilai-nilai luhur jati dirinya sebagai perempuan Bali, menjadikan setiap langkah yang ia ambil sebagai warisan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Pada akhirnya, kekuatan sejati seorang pemimpin perempuan, terletak pada kedalaman ia mengenali jati dirinya. Dewi Hendriyani adalah bukti nyata bahwa perempuan yang memahami diri dan mengutamakan karakter serta integritas akan selalu meninggalkan jejak yang memberi manfaat bagi dunia. Dengan kepemimpinan yang berbasis pada kesadaran diri, Dewi berupaya memastikan bahwa setiap langkahnya di lembaga tempatnya mengabdi saat ini, menjadi warisan yang membawa perubahan baik dan menjadi kebanggaan bagi orang-orang terdekatnya serta masyarakat luas.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *