RBN || Gunungkidul
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi mulai berdampak pada layanan transportasi pelajar di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul terpaksa mengurangi operasional bus sekolah gratis karena biaya bahan bakar yang terus meningkat.
Seluruh armada bus sekolah milik Dinas Perhubungan (Dishub) Gunungkidul diketahui menggunakan BBM non-subsidi jenis Dexlite. Kondisi tersebut membuat anggaran operasional membengkak dan tidak lagi mencukupi hingga akhir tahun anggaran.
Akibat keterbatasan dana, layanan bus sekolah yang sebelumnya beroperasi dua kali sehari, pagi dan sore, kini hanya melayani perjalanan pada pagi hari.
Kepala Bidang Angkutan dan Terminal Dishub Gunungkidul, Sigit Wijayanto, mengatakan pihaknya saat ini sedang melakukan penyesuaian agar layanan tetap dapat berjalan meski dengan keterbatasan anggaran.
“Setelah ada kenaikan BBM non-subsidi Pertadex (Dexlite) yang terjadi pertengahan April kemarin kami melakukan penghitungan ulang dan ternyata anggaran kami hanya cukup sampai akhir Juni dan itu mengalami kenaikan lagi,” ujar Sigit.
Saat ini terdapat tujuh unit bus sekolah yang melayani tujuh rute berbeda di wilayah Gunungkidul. Setiap armada rata-rata menghabiskan sekitar 25 liter BBM per hari dan digunakan lebih dari 100 pelajar secara gratis.
Dishub Gunungkidul juga telah menyampaikan perubahan jadwal operasional kepada siswa maupun orang tua murid agar tidak menimbulkan kebingungan di lapangan.
Selain melakukan penyesuaian layanan, pemerintah daerah juga mengajukan permohonan kepada pihak terkait agar armada bus sekolah dapat menggunakan BBM bersubsidi. Langkah tersebut diharapkan mampu menekan biaya operasional sehingga layanan transportasi pelajar bisa kembali normal.
Program bus sekolah gratis sendiri selama ini menjadi salah satu layanan penting bagi pelajar, terutama yang tinggal di wilayah pedesaan Gunungkidul dengan akses transportasi terbatas.
Sumber: iNews











