Dari Wartawan ke Profesor: Perempuan yang Membuktikan ‘Berdaya’ Tak Butuh Pengakuan

  • Share
Prof. Dr. Suraya, M.Si
Prof. Dr. Suraya, M.Si

 RBN || Jakarta

Perjalanan hidup Prof. Dr. Suraya, M.Si menjadi bukti bahwa kekuatan perempuan sejati lahir dari keseimbangan antara karier, keluarga, dan cinta terhadap kehidupan.

Jakarta, Oktober 2025 — Di tengah gempuran dunia modern yang menuntut perempuan untuk terus membuktikan diri, sosok Prof. Dr. Suraya, M.Si tampil sebagai potret nyata perempuan berdaya yang tak mencari pengakuan. Ia menunjukkan bahwa keberhasilan bukan tentang sorotan publik, tetapi tentang makna yang ditanam di setiap langkah hidupnya.

Berawal dari karier sebagai wartawan, Prof. Suraya menapaki dunia yang sarat dinamika dan tekanan. Dunia jurnalistik mengajarkannya memahami realitas sosial, mengasah kepekaan, dan menghargai suara-suara kecil yang sering terabaikan. Dari sanalah semangatnya tumbuh untuk mengabdikan diri di dunia pendidikan hingga akhirnya meraih gelar profesor.

Namun di balik pencapaian akademik itu, Prof. Suraya tetap menapaki peran domestik tanpa kehilangan arah. Ia tetap menjadi istri yang hangat, ibu yang sabar, sekaligus pendidik utama bagi anak-anaknya.

“Ibu adalah perempuan, dan perempuan adalah ibu yang selalu hadir sebagai pendidik utama dalam keluarga,”
tutur Prof. Suraya dalam wawancara singkatnya.

Baginya, menjadi profesor hanyalah simbol pencapaian intelektual, sementara makna sejati keberdayaan perempuan terletak pada kemampuannya menjaga keseimbangan antara akal dan hati. Ia percaya, perempuan bisa berdaya tanpa kehilangan kelembutan, bisa berprestasi tanpa meninggalkan rumah.

Dari ruang redaksi hingga ruang akademik, perjalanan Prof. Suraya adalah kisah tentang keteguhan dan cinta. Ia menjadi bukti bahwa perempuan hebat tak butuh pengakuan — cukup konsistensi, kasih, dan keberanian untuk terus tumbuh di setiap perannya.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *