RBN || Jakarta
Kebiasaan membagikan masalah pribadi di ruang publik kian lazim di tengah budaya digital yang serba terbuka. Keluhan tentang pekerjaan, relasi, hingga tekanan hidup mudah ditemukan di linimasa. Namun sejumlah riset psikologi menunjukkan, menyiarkan masalah tanpa diiringi langkah penyelesaian justru dapat memperkuat rasa tidak berdaya dan ketergantungan pada validasi eksternal.
Dalam kajian psikologi sosial, fenomena perbandingan sosial menjelaskan bahwa respons orang terhadap penderitaan orang lain tidak selalu dilandasi empati. Sebagian orang mungkin tidak terlalu peduli karena fokus pada persoalannya sendiri, sementara yang lain merasa lebih baik karena bukan mereka yang sedang mengalami kesulitan. Realitas ini menunjukkan bahwa berharap simpati universal adalah ekspektasi yang kurang realistis.
Psikolog klinis Guy Winch menilai kebiasaan mengulang cerita negatif tanpa solusi berpotensi memperpanjang stres emosional. Ia menyebut pola ini sebagai rumination yang dapat menghambat pemulihan psikologis. Sementara itu, peneliti Brené Brown mengingatkan bahwa kerentanan bukan berarti membagikan segalanya kepada semua orang, melainkan keberanian untuk memilih ruang aman yang tepat untuk berbagi dengan tujuan yang jelas.
Pendekatan yang lebih adaptif adalah memperkuat regulasi emosi dan kemampuan menyelesaikan masalah. Konsep self-efficacy yang diperkenalkan Albert Bandura menegaskan bahwa keyakinan pada kapasitas diri memengaruhi cara seseorang menghadapi tantangan. Individu dengan tingkat self-efficacy tinggi cenderung lebih tangguh dan fokus pada solusi, bukan pada simpati.
Dukungan sosial tetap penting, tetapi harus bersifat konstruktif. Berbagi kepada orang terpercaya atau profesional bertujuan mencari arah keluar, bukan sekadar pengakuan emosional. Pada akhirnya, ketahanan mental tidak dibangun dari banyaknya orang yang mendengar keluhan, melainkan dari keberanian mengambil tanggung jawab atas perbaikan diri. Dunia mungkin tidak selalu memberi perhatian, tetapi setiap orang memiliki kendali untuk mengubah responsnya sendiri terhadap masalah.











