RBN || Jakarta
Di tengah derasnya arus tren fashion global, kebaya tetap tegak sebagai simbol budaya Indonesia. Busana tradisional ini bukan sekadar pakaian indah, tapi juga representasi identitas, kedaulatan, bahkan demokrasi bangsa.
Itulah pesan utama yang disampaikan Pendiri & Ketua Komunitas Perempuan Berkebaya, Lia Nathalia, dalam tayangan Bincang Online Inspiratif (BIONS) Seri 268, Sabtu (9/8).
“Kebaya adalah ciri khas dan identitas bangsa. Ia melambangkan keluwesan, keanggunan, sekaligus simbol perlawanan perempuan terhadap penjajah,” ungkap Lia.
Ia menambahkan, kebaya kini diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO bersama lima negara di Asia Tenggara.
Selama 11 tahun terakhir, Komunitas Perempuan Berkebaya konsisten mengampanyekan kebaya sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari. Lia percaya, diplomasi budaya bisa dimulai dari hal sederhana termasuk berkebaya.
“Busana adalah representasi jati diri yang dilihat orang lain. Berkebaya sesuai pakem adalah cara melestarikan tradisi secara berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut Lia, penetapan Hari Kebaya Nasional setiap 24 Juli punya dampak besar, baik untuk membuktikan bahwa budaya berkebaya hidup di masyarakat maupun mendukung proses registrasi kebaya ke UNESCO. Bahkan saat ini, dua jenis kebaya Kebaya Laboh dari Kepulauan Riau dan Kebaya Kerancang dari Betawi sudah diajukan untuk diakui secara internasional.
Lia juga menegaskan bahwa kebaya adalah simbol kebebasan perempuan untuk memilih busana, sekaligus wujud rasa percaya diri. “Kebaya membuat perempuan terlihat eksklusif. Confidence itu penting agar nyaman mengenakannya,” katanya.
Diplomasi, menurut Lia, bukan hanya soal meja perundingan atau negosiasi politik. Ia bisa dilakukan dengan cara soft, seperti memperkenalkan kebaya ke kancah dunia lewat seni, film, atau event budaya. Kuncinya ada pada kesadaran setiap perempuan Indonesia untuk lebih sering berkebaya dan kreatif mempromosikannya.
“Perjuangan menghidupkan kebaya adalah cara kecil saya berkontribusi untuk negeri. Budaya itu ada dan hidup, mewarnai banyak hal, termasuk cara kita berdiplomasi,” tutup Lia.











