Fajar Nuswantoro: Pendidikan Masa Depan Tak Lagi Ditulis di Buku, Tapi Dipahat di AI dan DNA

  • Share
Fajar Nuswantoro
Fajar Nuswantoro

RBN || Jakarta

Animator sekaligus Wakil Dekan 3 FFTV IKJ, Fajar Nuswantoro, menilai masa depan pendidikan Indonesia sedang mengalami pergeseran besar akibat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Ia menegaskan bahwa generasi mendatang tidak lagi hanya belajar melalui buku teks, melainkan dibentuk oleh interaksi mereka dengan AI serta DNA budaya yang mereka warisi.

“Masa depan pendidikan tidak lagi ditulis di buku, tapi dipahat di AI dan DNA,” ujarnya.

Menurut Fajar, AI memang membuka ruang baru untuk mempercepat proses berpikir dan menciptakan karya kreatif. Namun di sisi lain, ia mengingatkan bahwa teknologi ini bisa menjadi ancaman halus ketika manusia terlalu nyaman “dibentuk” oleh algoritma.

“Jika kita berhenti mengalami dan hanya mengandalkan AI dalam berpikir, orisinalitas bisa terkikis,” katanya.

 

AI: Imajinasi atau Imitasi yang Sangat Cerdas?

Fajar menjelaskan bahwa imajinasi manusia lahir dari pengalaman emosional—dari kegagalan, cinta, trauma, hingga refleksi batin. Sebaliknya, AI hanya bekerja dengan mengolah ulang data yang telah ada sebelumnya.

“AI tidak punya hati atau rasa bersalah. Ia bisa meniru gaya, tapi ia tidak bisa merasakan,” tegasnya.

Baginya, AI tidak memiliki kesadaran emosional untuk melompat mencipta sesuatu yang lahir dari pergulatan batin. Karena itu, Fajar menyebut hasil AI lebih tepat disebut sebagai imitasi cerdas daripada imajinasi sejati.

 

DNA Bangsa vs Algoritma Global

Fajar menyoroti pentingnya menjaga “DNA bangsa”—yakni nilai, karakter, dan kearifan lokal yang membentuk identitas generasi Indonesia. Namun kini, algoritma global yang mendominasi platform digital sering kali menyebarkan narasi yang homogen dan lintas batas budaya.

“Jika DNA budaya tidak ditanam dengan kuat, anak-anak kita bisa tumbuh sebagai warga algoritma global yang kehilangan keterikatan emosional terhadap jatidiri bangsanya,” ujarnya.

Menurutnya, pendidikan nasional harus menempatkan AI sebagai alat pendukung, bukan sebagai pembentuk tunggal cara berpikir generasi muda.

 

Pendidikan: Bukan Sekadar Jawaban Instan

Fajar mengingatkan bahwa pendidikan merupakan proses yang menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, empati, dan kemampuan mempertanyakan realitas. Namun AI menghadirkan solusi instan yang bisa menimbulkan ketergantungan.

“Jika siswa hanya mengejar jawaban cepat, mereka akan pintar menjawab, tapi miskin merenung,” ujarnya.

Karena itu, ia menilai guru masa depan harus menjadi fasilitator kesadaran berpikir, bukan sekadar pengirim informasi.

 

Dunia Film: Apakah Penghargaan Masa Depan Akan Diberikan Kepada Mesin?

Sebagai pegiat animasi, Fajar menyadari kemungkinan karya buatan AI memenangkan festival film bergengsi. Namun ia mempertanyakan maknanya.

“Jika film pemenang tidak lahir dari air mata dan perjalanan batin manusia, lalu apa arti kemenangan seni itu?” tanyanya.

Ia menegaskan bahwa seni bukan hanya tentang hasil visual, tetapi juga tentang jejak emosional, perjuangan, dan narasi kemanusiaan.

 

Pesan untuk Generasi Muda: Jadilah Pencipta, Bukan Produk Algoritma

Fajar menutup refleksinya dengan pesan bagi generasi muda yang tumbuh berdampingan dengan AI sejak dini. Ia mendorong mereka untuk menggunakan teknologi sebagai alat bantu, bukan sebagai penentu arah.

“Gunakan AI untuk memahat masa depanmu, tapi jangan biarkan kamu menjadi produk algoritma. Jadilah pencipta sejarah yang memiliki identitas dan nurani,” pungkasnya.

Dengan demikian, bagi Fajar Nuswantoro, masa depan pendidikan Indonesia bukan sekadar soal menguasai teknologi, tetapi bagaimana memadukan AI sebagai alat inovasi dengan DNA budaya sebagai kompas nilai.

 

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *