RBN || Banyumas
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menyiapkan sejumlah langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau 2026. Kondisi kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang dan panas akibat pengaruh fenomena El Nino.
Kepala Pelaksana BPBD Banyumas, Dwi Irawan Sukma, mengatakan pihaknya telah melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan berdasarkan data historis. Pada musim kemarau 2023, tercatat sebanyak 81 desa di sekitar 19 kecamatan terdampak kekeringan, terutama di wilayah selatan Banyumas.
“Kami telah menyiapkan skema penanganan jangka pendek berupa distribusi air bersih bagi masyarakat terdampak. Upaya tersebut didukung dengan kesiapan armada mobil tangki yang dimiliki BPBD maupun bantuan dari berbagai pihak,” kata Dwi di Purwokerto, Senin (30/3/2026).
Ia menjelaskan, distribusi air bersih menjadi solusi jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sementara untuk penanganan jangka panjang, diperlukan keterlibatan dinas teknis seperti Dinas Pekerjaan Umum dalam penyediaan sumber air.
“Kalau jangka panjang, nanti dari dinas teknis seperti PU (Pekerjaan Umum), misalnya pembangunan sumur atau sarana air bersih lainnya. Kami hanya merekomendasikan titik-titik yang membutuhkan,” ujarnya.
Selain ancaman kekeringan, BPBD Banyumas juga mewaspadai potensi karhutla yang biasanya meningkat saat musim kemarau. Untuk itu, koordinasi telah dilakukan dengan Perhutani dan berbagai pihak terkait guna memperkuat kesiapsiagaan.
“Kami imbau masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar kawasan hutan, agar tidak sembarangan membakar sampah atau menyalakan api yang berpotensi memicu kebakaran,” kata Dwi.
Ia juga mengajak masyarakat untuk proaktif melaporkan jika mengalami kekurangan air bersih, baik melalui pemerintah desa, kecamatan, maupun langsung ke BPBD, agar penanganan dapat segera dilakukan.
Sementara itu, Sekretaris BPBD Banyumas, Andi Risdianto, menyebut kesiapan menghadapi musim kemarau turut didukung kebijakan Pemerintah Kabupaten Banyumas yang menjadikan penyediaan air bersih sebagai program prioritas.
Menurutnya, BPBD telah menyiapkan berbagai sarana pendukung seperti tandon air, pipa distribusi, serta armada mobil tangki.
“Untuk mobil tangki, saat ini tersedia empat unit, terdiri atas tiga milik BPBD Banyumas dan satu unit milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah,” katanya.
Selain itu, BPBD juga mendapat dukungan armada lintas sektor, yakni dari PMI dan Dinas Lingkungan Hidup masing-masing satu unit, serta PDAM sebanyak empat unit, sehingga total armada yang dapat dikerahkan lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya.
Untuk mengantisipasi karhutla, BPBD Banyumas juga menyiapkan sekitar 15 unit pompa air berkapasitas besar yang dapat digunakan di wilayah sulit dijangkau kendaraan.
“Penanganan karhutla lebih banyak menggunakan tenaga manusia dan pompa air karena lokasi biasanya berada di kawasan hutan dan pegunungan,” jelas Andi.
Ia menambahkan, wilayah rawan karhutla tersebar di sejumlah kecamatan di Banyumas bagian selatan, seperti Kebasen, Rawalo, Purwojati, Cilongok, Wangon, Ajibarang, dan Gumelar.
Dalam upaya penanggulangan, BPBD Banyumas akan mengerahkan seluruh sumber daya yang ada, termasuk TNI, Polri, relawan, dan masyarakat, dalam satu komando penanganan bencana.
Langkah ini diharapkan mampu meminimalkan dampak musim kemarau 2026, sekaligus menjaga keselamatan masyarakat di wilayah rawan bencana.
Sumber: Metro Tv News











