Warga Palestina Sambut Ramadan di Tengah Konflik dan Krisis Kemanusiaan

  • Share
Foto: ANTARA/Xinhua/Rizek Abdeljawad

RBN || Gaza

Warga Palestina di Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur bersiap menyambut bulan suci Ramadan yang diperkirakan dimulai pada 18 atau 19 Februari 2026. Namun, suasana Ramadan tahun ini dipenuhi kekhawatiran akibat konflik yang belum mereda dan kondisi kemanusiaan yang semakin memburuk.

Meski gencatan senjata telah diberlakukan sejak Oktober 2025, kekerasan masih terjadi di Jalur Gaza. Otoritas kesehatan setempat melaporkan sedikitnya 11 warga Palestina tewas pada Minggu (15/2) akibat serangan yang disebut sebagai pelanggaran terbaru terhadap gencatan senjata.

Di Gaza City, pasar tradisional Zawiya yang biasanya ramai menjelang Ramadan kini terlihat sepi. Banyak pedagang kehilangan pembeli, sementara barang dagangan menumpuk tanpa terjual.

Sameh al-Bitar (40), seorang pedagang rempah, mengatakan suasana Ramadan kini sangat berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ia mengaku kehilangan dua putranya dalam serangan udara.

“Dulu kami menghias rumah dan jalanan. Sekarang semuanya terasa menyedihkan,” katanya.

Ia menambahkan, Ramadan tahun ini kemungkinan hanya diisi dengan ibadah sederhana tanpa tradisi berkumpul bersama keluarga atau buka puasa bersama yang biasanya menjadi bagian penting perayaan Ramadan.

Menurut data otoritas kesehatan Gaza, sejak gencatan senjata pada Oktober 2025, sedikitnya 603 warga Palestina tewas dan lebih dari 1.600 orang terluka. Secara keseluruhan, sejak konflik meningkat pada Oktober 2023, jumlah korban tewas dilaporkan telah melampaui 72.000 orang, dengan lebih dari 171.000 lainnya mengalami luka-luka.

Ketegangan juga meningkat di Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Pasukan Israel dilaporkan terus melakukan operasi keamanan, penangkapan, serta memperketat pos pemeriksaan militer di berbagai kota dan kamp pengungsi. Kondisi ini memengaruhi aktivitas masyarakat, termasuk persiapan ibadah Ramadan.

Di Kota Hebron, warga mengaku akses ke Masjid Ibrahimi semakin dibatasi karena peningkatan pengamanan militer. Saeed al-Awiwi (50), warga setempat, mengatakan Ramadan kali ini diperkirakan akan berlangsung dalam situasi yang sulit.

“Semua tanda menunjukkan Ramadan kali ini akan sangat berat,” ujarnya.

Kekhawatiran serupa juga dirasakan warga Yerusalem Timur, terutama terkait akses ke Masjid Al-Aqsa. Abdul Rahman al-Alami (22) mengatakan banyak anak muda khawatir tidak dapat menjalankan ibadah di masjid tersebut akibat pembatasan keamanan.

Selain itu, keputusan pemerintah Israel untuk memulai proses pendaftaran tanah di Tepi Barat untuk pertama kalinya sejak 1967 memicu kecaman dari otoritas Palestina. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi memperluas klaim kepemilikan negara atas wilayah yang disengketakan.

Di tengah berbagai pembatasan dan situasi keamanan yang belum stabil, warga Palestina menyambut Ramadan dengan penuh harapan, meski dibayangi ketidakpastian dan kesulitan yang masih berlangsung.

Sumber: Antara News

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *