RBN || Jakarta
Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan pasar spot pada Senin (22/12) pagi dengan pergerakan positif. Mata uang Garuda dibuka di level Rp16.750 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat tipis 1 poin atau sekitar 0,01 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pergerakan rupiah terjadi di tengah dinamika mata uang kawasan Asia yang cenderung bervariasi. Sejumlah mata uang Asia tercatat menguat, di antaranya baht Thailand yang naik 0,04 persen, yen Jepang menguat 0,20 persen, serta won Korea Selatan yang bertambah 0,02 persen.
Sementara itu, beberapa mata uang Asia lainnya justru mengalami pelemahan. Peso Filipina tercatat turun 0,10 persen, diikuti ringgit Malaysia dan dolar Singapura yang masing-masing melemah 0,05 persen. Adapun dolar Hong Kong dan yuan China terpantau bergerak stagnan tanpa perubahan signifikan.
Kondisi serupa juga terlihat pada mata uang utama negara maju yang bergerak bervariasi. Poundsterling Inggris melemah 0,11 persen, sementara euro Eropa menguat 0,04 persen dan franc Swiss naik 0,11 persen. Di sisi lain, dolar Australia tumbuh 0,03 persen, sedangkan dolar Kanada melemah tipis 0,01 persen.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pergerakan rupiah saat ini masih berada dalam fase konsolidasi dengan peluang penguatan terbatas. Minimnya rilis data ekonomi global di penghujung tahun turut memengaruhi arah pasar.
“Risiko sentimen global diperkirakan tidak akan banyak mendukung rupiah, terutama karena adanya sentimen negatif dari dalam negeri terkait prospek pemangkasan suku bunga Bank Indonesia,” ujar Lukman.
Untuk perdagangan hari ini, Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp16.650 hingga Rp16.750 per dolar AS, seiring pelaku pasar mencermati arah kebijakan dan sentimen ekonomi menjelang akhir tahun.
Sumber: CNN Indonesia











