RBN || Jakarta
Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan di pasar global. Pada penutupan perdagangan Jumat (27/12), rupiah tercatat berada di level Rp16.979 per dolar AS, melemah 75,5 poin atau 0,45 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp16.957 per dolar AS, mencerminkan tekanan yang masih membayangi mata uang domestik.
Pergerakan mata uang di kawasan Asia menunjukkan tren yang beragam. Yen Jepang dan won Korea Selatan tercatat melemah tipis, sementara baht Thailand dan yuan Tiongkok justru menguat. Di sisi lain, peso Filipina mengalami pelemahan cukup signifikan.
Mata uang regional lainnya seperti dolar Singapura dan dolar Hong Kong juga ditutup melemah pada perdagangan sore ini, menandakan ketidakpastian yang masih menyelimuti pasar kawasan.
Tak hanya di Asia, tekanan juga terjadi pada mata uang utama dunia. Euro, poundsterling Inggris, dan franc Swiss kompak berada di zona merah. Namun demikian, dolar Australia dan dolar Kanada justru menunjukkan penguatan terbatas, memberikan sedikit kontras di tengah dominasi sentimen negatif.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa pelemahan rupiah tidak terlepas dari kondisi geopolitik global yang belum stabil. Konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah dinilai menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran investor.
“Pasar masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah. Kekhawatiran ini membuat investor cenderung berhati-hati, bahkan mengabaikan pernyataan dari Gedung Putih terkait potensi penangguhan serangan ke fasilitas minyak Iran,” ujarnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pergerakan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga sangat bergantung pada dinamika global. Di tengah tantangan tersebut, stabilitas ekonomi dan kebijakan yang adaptif menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan pasar.
Meski menghadapi tekanan, momentum ini sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya ketahanan ekonomi nasional dalam menghadapi gejolak dunia yang terus berubah.
Sumber: CNN Indonesia











