RBN || Jakarta
Kebiasaan mengonsumsi camilan ringan seperti keripik ternyata tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga memengaruhi kemampuan otak untuk fokus. Penelitian terbaru menunjukkan, makanan ultra proses dapat menurunkan konsentrasi bahkan dalam waktu singkat setelah dikonsumsi.
Studi yang dilakukan tim peneliti dari Australia dan Brasil melibatkan lebih dari 2.100 orang dewasa paruh baya. Hasilnya menunjukkan adanya penurunan kemampuan fokus serta kecepatan pemrosesan mental setelah peserta mengonsumsi makanan ultra proses.
Peneliti utama dari Monash University, Barbara Cardoso, menyatakan bahwa dampak tersebut terlihat jelas dan dapat diukur.
“Kami melihat adanya penurunan yang nyata dan terukur dalam kemampuan seseorang untuk fokus,” ujarnya.
Menariknya, efek ini bisa muncul hanya dalam hitungan menit setelah makanan dikonsumsi. Bahkan, dampak negatif tersebut tetap terjadi meskipun seseorang menjalani pola makan sehat, seperti diet Mediterania.
Temuan ini menunjukkan bahwa kualitas makanan tidak hanya ditentukan oleh pola makan secara keseluruhan, tetapi juga oleh tingkat pemrosesan makanan yang dikonsumsi.
Penelitian ini juga memperkuat temuan sebelumnya terkait penurunan rentang perhatian manusia. Studi dari Ohio State University menyebutkan rata-rata rentang perhatian orang dewasa kini hanya sekitar delapan detik.
Psikiater dari Ohio State, Evita Singh, menjelaskan bahwa banyak faktor memengaruhi kemampuan seseorang untuk fokus.
“Ada banyak hal yang bisa menyebabkan seseorang sulit berkonsentrasi atau mengalami gangguan perhatian,” jelasnya.
Selain berdampak pada konsentrasi, konsumsi makanan ultra proses juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penurunan fungsi otak, termasuk demensia. Studi lain dari Harvard Medical School pada 2022 menunjukkan bahwa kelompok dengan konsumsi tinggi makanan ultra proses memiliki risiko demensia hingga 25 persen lebih tinggi.
Peneliti juga mengingatkan bahwa makanan ultra proses tidak selalu terlihat tidak sehat. Produk seperti granola bar atau makanan berbasis nabati pun bisa termasuk dalam kategori ini karena mengandung berbagai bahan tambahan.
Menurut Cardoso, zat tambahan dalam makanan ultra proses diduga menjadi faktor utama yang memengaruhi fungsi kognitif.
“Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan antara pola makan dan fungsi otak tidak hanya soal kurangnya makanan sehat, tetapi juga berkaitan dengan tingkat pemrosesan makanan itu sendiri,” ujarnya.
Temuan ini menegaskan pentingnya masyarakat lebih selektif dalam memilih makanan sehari-hari, tidak hanya dari segi gizi, tetapi juga tingkat pemrosesannya, demi menjaga kesehatan otak dan kemampuan fokus.
Sumber: Kompas











