RBN || Teheran
Ketegangan di Timur Tengah memicu situasi berbahaya di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas dunia. Normalnya, rute ini dilalui ratusan kapal setiap hari, namun sejak meningkatnya konflik militer antara AS‑Israel dan Iran, hampir seluruh kapal besar menghentikan pelayaran.
Berdasarkan data pemantauan pelayaran terbaru, hanya sekitar lima kapal yang berani melintas di Selat Hormuz, meskipun berada di bawah ancaman serangan rudal dan drone. Kondisi ini menunjukkan risiko tinggi bagi para pelaut dan perusahaan pelayaran, serta potensi gangguan serius terhadap pasokan energi global.
Situasi ini juga memicu kekhawatiran lonjakan harga minyak. Beberapa negara Asia disebut tengah menyiapkan strategi untuk menghadapi dampak krisis energi, sementara negara-negara Arab mengecam keterlibatan AS dan Israel dalam konflik, menambah kompleksitas geopolitik di kawasan Teluk.
Kondisi di Selat Hormuz kini dianggap sebagai “neraka” bagi pelayaran internasional, di tengah eskalasi ketegangan yang terus berkembang.
Sumber: CNBC Indonesia











