RBN || Jakarta
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan optimisme terhadap kinerja perekonomian nasional pada kuartal I tahun 2026 yang diproyeksikan mampu tumbuh hingga kisaran 5,6 hingga 5,7 persen, keyakinan ini didorong oleh kuatnya konsumsi masyarakat selama periode Ramadan dan Lebaran yang secara historis selalu menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Purbaya menilai daya beli masyarakat pada tahun ini tetap terjaga bahkan cenderung meningkat seiring dengan berbagai stimulus yang diberikan pemerintah guna menjaga aktivitas ekonomi tetap bergerak, mulai dari program bantuan sosial hingga kebijakan diskon transportasi yang mendorong mobilitas dan belanja masyarakat selama musim libur panjang.
Menurut Purbaya, momentum Ramadan dan Lebaran memiliki peran strategis dalam mengerek konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto, sehingga ketika aktivitas belanja masyarakat meningkat, dampaknya akan langsung terasa pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Ia menyebut bahwa indikasi awal menunjukkan konsumsi berjalan cukup kuat, didukung meningkatnya mobilitas masyarakat, aktivitas pariwisata, serta belanja kebutuhan pokok dan sekunder yang mengalami kenaikan signifikan selama periode tersebut.
Lebih lanjut, pemerintah juga telah menyiapkan berbagai kebijakan stimulus untuk menjaga momentum ini, di antaranya pemberian insentif dan diskon di sektor transportasi seperti kereta api, pesawat, dan angkutan laut, yang tidak hanya membantu meringankan beban masyarakat tetapi juga mendorong pergerakan ekonomi di berbagai daerah.
Selain itu, stabilitas harga dan inflasi yang relatif terkendali turut menjadi faktor penting dalam menjaga daya beli tetap kuat selama periode Ramadan dan Lebaran, kondisi ini diyakini menjadi fondasi yang solid bagi pertumbuhan ekonomi pada awal tahun.
Purbaya menegaskan bahwa jika tren konsumsi yang kuat ini dapat dipertahankan hingga akhir kuartal pertama, maka target pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,7 persen bukanlah hal yang sulit untuk dicapai, bahkan angka tersebut dinilai cukup baik di tengah dinamika ekonomi global yang masih diliputi ketidakpastian, optimisme ini juga mencerminkan kepercayaan pemerintah terhadap efektivitas kebijakan fiskal yang telah dijalankan dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Dengan demikian, momentum Lebaran tidak hanya menjadi perayaan keagamaan semata, tetapi juga berperan sebagai pendorong utama aktivitas ekonomi nasional, di mana sinergi antara konsumsi masyarakat, kebijakan pemerintah, dan stabilitas makroekonomi diharapkan mampu menjaga laju pertumbuhan tetap positif, sekaligus memperkuat fondasi ekonomi Indonesia untuk menghadapi tantangan ke depan.
Sumber: DDTC











