RBN || Jakarta
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un kembali terpilih sebagai Presiden Urusan Negara melalui sidang Majelis Rakyat Tertinggi yang digelar pada 22 Maret 2026, sebuah proses politik yang kembali memantik perhatian dunia internasional karena mencerminkan karakter sistem pemerintahan yang sangat terpusat dan minim keterbukaan.
Dalam pemilihan tersebut, Kim dilaporkan meraih dukungan hampir mutlak dengan angka mendekati 99,9 persen suara, hasil yang secara konsisten muncul dalam setiap proses politik di negara tersebut dan memperkuat posisinya sebagai pemegang kendali penuh atas arah kebijakan negara, baik di bidang politik, militer, maupun ekonomi.
Mekanisme pemilu di Korea Utara sendiri dikenal menggunakan sistem satu kandidat di setiap daerah pemilihan yang diajukan oleh partai penguasa sehingga praktis tidak membuka ruang kompetisi maupun oposisi, kondisi ini membuat banyak pengamat menilai bahwa proses pemilihan lebih bersifat formalitas untuk mengukuhkan kekuasaan yang telah ada dibandingkan sebagai sarana demokrasi yang kompetitif dan terbuka.
Sidang parlemen tersebut juga menjadi panggung simbolik bagi negara untuk menunjukkan stabilitas internal, serta legitimasi kekuasaan di tengah tekanan dan sorotan global.
Terpilihnya kembali Kim sekaligus memperpanjang dominasi dinasti keluarga Kim yang telah memimpin Korea Utara sejak berdirinya negara tersebut pada 1948, mempertegas pola kepemimpinan turun-temurun yang menjadi ciri khas sistem politiknya.
Di tengah perkembangan tersebut, dunia internasional terus menaruh perhatian terhadap Korea Utara tidak hanya dari sisi politik dalam negeri tetapi juga terkait isu keamanan regional, program militer, serta hubungan diplomatik yang kerap memicu ketegangan.
Berbagai analis menilai bahwa keberlanjutan kepemimpinan ini akan mempertahankan arah kebijakan yang relatif konsisten dengan pendekatan tertutup dan kontrol ketat terhadap masyarakat, sekaligus menjadi pengingat bahwa dinamika politik global tidak hanya dipengaruhi oleh negara dengan sistem demokrasi terbuka, tetapi juga oleh negara dengan sistem yang sangat terkonsolidasi seperti Korea Utara, yang hingga kini tetap menjadi salah satu entitas paling unik dan kompleks dalam peta politik dunia.
Sumber: Jawa Pos











