RBN || Papua Nugini
Sebuah kapal pesiar asal Australia, Coral Adventurer, dilaporkan kandas di perairan Papua Nugini pada perjalanan perdananya sejak insiden meninggalnya seorang penumpang lanjut usia pada akhir Oktober lalu.
Menurut keterangan juru bicara kapal, insiden kandas tersebut terjadi pada Sabtu di lepas pantai timur Papua Nugini, sekitar 30 kilometer dari Kota Lae. Kapal mengalami apa yang disebut sebagai grounding incident atau kandas, namun tidak dilaporkan adanya kondisi darurat.
Seluruh penumpang dan awak kapal dipastikan dalam keadaan selamat. Pemeriksaan awal tidak menemukan kerusakan pada lambung kapal, meski inspeksi lanjutan dijadwalkan dilakukan pada Minggu (28/12) untuk memastikan kondisi kapal sepenuhnya aman.
Juru bicara Australian Maritime Safety Authority (AMSA) menyatakan kepada BBC bahwa pihaknya tidak menerima panggilan darurat dari Coral Adventurer. Meski demikian, AMSA menyebut terus memantau situasi dan siap memberikan dukungan kepada otoritas Papua Nugini jika diperlukan.
Hingga kini, belum ada keputusan terkait kelanjutan pelayaran 12 hari yang sedang berlangsung dan dijadwalkan berakhir pada 30 Desember. Saat insiden terjadi, kapal membawa 80 penumpang dan 43 awak.
Coral Adventurer saat ini juga masih menjadi subjek penyelidikan bersama antara AMSA dan Kepolisian Queensland, Australia, terkait kematian seorang penumpang bernama Suzanne Rees (80). Perempuan tersebut ditemukan meninggal dunia di Pulau Lizard, Australia, pada 26 Oktober lalu.
Saat itu, Rees tengah mengikuti kegiatan mendaki bersama rombongan penumpang lain, namun memutuskan berhenti sejenak untuk beristirahat. Kapal kemudian berlayar meninggalkan pulau tanpa menyadari bahwa ia tertinggal. Beberapa jam kemudian, kapal kembali setelah awak menyadari seorang penumpang hilang.
Operasi pencarian besar-besaran dilakukan, dan jasad Rees ditemukan keesokan harinya. Insiden tersebut terjadi ketika kapal baru dua hari menjalani pelayaran panjang selama 60 hari. Pelayaran itu kemudian dibatalkan, dan seluruh penumpang menerima pengembalian dana penuh.
CEO Coral Expeditions, Mark Fifield, menyampaikan permohonan maaf mendalam atas peristiwa tersebut. Ia mengatakan perusahaan telah memberikan dukungan penuh kepada keluarga korban dan bekerja sama dengan pihak berwenang dalam proses penyelidikan.
AMSA menegaskan tidak dapat memberikan keterangan lebih lanjut mengenai perkembangan penyelidikan, seraya menyatakan bahwa lembaganya tidak memiliki kebiasaan mempublikasikan hasil investigasi.
Sumber: BBC News











