RBN || Jakarta
Keputusan Iran untuk tidak menghadiri putaran kedua perundingan dengan Amerika Serikat menuai perhatian para pengamat hubungan internasional. Langkah ini dinilai bukan sekadar penolakan, melainkan bagian dari strategi politik yang mencerminkan posisi tawar sekaligus ketidakpercayaan terhadap proses diplomasi yang berlangsung.
Dosen Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Asra Virgianita, menilai sikap Teheran dapat dibaca sebagai upaya meningkatkan daya tawar terhadap Washington. Menurutnya, ancaman ketidakhadiran dalam perundingan menjadi sinyal politik agar AS mempertimbangkan kembali tuntutannya, khususnya terkait ketegangan di Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
“Langkah ini bukan hanya penolakan, tetapi pesan politik untuk menegaskan posisi Iran dalam negosiasi,” ujarnya.
Selain itu, keputusan tersebut juga mencerminkan rendahnya tingkat kepercayaan Iran terhadap komitmen AS. Kebijakan tekanan, termasuk dugaan blokade di kawasan strategis tersebut, dinilai semakin memperkeruh hubungan kedua negara.
Asra memperingatkan, absennya Iran dalam perundingan berpotensi melemahkan legitimasi setiap keputusan yang dihasilkan. Tanpa keterlibatan salah satu pihak utama, kesepakatan yang tercapai dinilai tidak memiliki kekuatan mengikat yang memadai.
Pandangan serupa disampaikan Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI, Fredy Buhama Lumban Tobing. Ia menilai dinamika ini merupakan hal yang lazim dalam proses negosiasi internasional. Namun, kondisi tersebut dapat memaksa AS untuk lebih berhati-hati dalam menentukan langkah ke depan.
“Setiap kebijakan yang diambil akan memengaruhi respons Iran. Karena itu, pendekatan yang lebih bijak dan saling menghormati menjadi kunci,” katanya.
Sementara itu, laporan media internasional menyebut Iran untuk sementara tidak memiliki rencana mengikuti perundingan lanjutan. Situasi ini berkembang setelah Presiden Donald Trump mengirim negosiator ke kawasan dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, termasuk insiden militer di perairan sekitar Selat Hormuz.
Para pengamat mengingatkan, kebuntuan diplomasi berisiko meningkatkan eskalasi konflik serta mengguncang stabilitas ekonomi global. Meski demikian, harapan terhadap jalur damai masih terbuka, selama kedua pihak menunjukkan itikad baik untuk kembali ke meja perundingan.
Di tengah ketegangan yang terus meningkat, dunia kini menanti apakah diplomasi masih mampu menjadi jalan keluar, atau justru konflik kembali tak terhindarkan.
Sumber: Detik News











