Penembakan Massal di Louisiana Tewaskan Delapan Anak, Polisi Sebut Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga

  • Share
Foto: AP/Jill Pickett

RBN || Louisiana

Peristiwa penembakan massal mengguncang Kota Shreveport, Louisiana, Amerika Serikat, Minggu (19/4/2026), yang menewaskan sedikitnya delapan anak dan melukai dua orang dewasa. Polisi menyebut insiden tersebut sebagai kasus kekerasan dalam rumah tangga.

Juru bicara Kepolisian Shreveport, Chris Bordelon, mengatakan pelaku bernama Shamar Elkins diduga menembak tujuh anak kandungnya sendiri serta melukai ibu mereka. Selain itu, satu anak lainnya juga turut menjadi korban tewas.

Para korban berusia antara satu hingga sekitar 12 tahun. Sementara itu, ibu korban dan seorang perempuan lainnya dilaporkan dalam kondisi kritis. Pelaku tewas setelah sempat dikejar oleh polisi.

Bordelon mengungkapkan bahwa pelaku sebelumnya pernah ditangkap pada 2019 dalam kasus kepemilikan senjata api.

Kepala Kepolisian Shreveport, Wayne Smith, menambahkan bahwa pelaku ditembak mati oleh aparat setelah melakukan pembajakan kendaraan.

Peristiwa tragis tersebut terjadi pada Minggu pagi di kawasan Cedar Grove, Shreveport. Polisi menyebut terdapat setidaknya empat lokasi berbeda yang saling berdekatan terkait rangkaian kejadian tersebut. Hingga kini, motif penembakan belum diungkap secara pasti, namun diduga berkaitan dengan konflik keluarga.

Kasus ini masuk dalam kategori “family annihilation” atau pembunuhan seluruh anggota keluarga, sebuah jenis kejahatan yang telah dikenal sejak 1980-an. Umumnya, kasus seperti ini melibatkan pelaku laki-laki yang membunuh anggota keluarganya sebelum akhirnya tewas atau ditangkap.

Wali Kota Shreveport, Tom Arceneaux, menyebut peristiwa ini sebagai tragedi besar bagi kota tersebut.

“Ini adalah situasi yang tragis, mungkin yang terburuk yang pernah kami alami dalam beberapa waktu terakhir,” ujarnya dalam konferensi pers.

“Ini adalah pagi yang sangat menyedihkan di Shreveport, dan hati saya tertuju kepada seluruh komunitas atas peristiwa tragis yang terjadi pagi ini,” tambahnya.

Ketua DPR Amerika Serikat, Mike Johnson, yang mewakili wilayah Louisiana termasuk Shreveport, juga menyampaikan belasungkawa atas kejadian tersebut.

“Tim saya terus berkoordinasi dengan aparat penegak hukum setempat seiring munculnya detail baru,” ujarnya dalam pernyataan resmi. “Kami mendoakan para korban, keluarga, dan seluruh komunitas Shreveport di masa yang sangat sulit ini.”

Seorang warga, Liza Demming, yang tinggal dua rumah dari lokasi kejadian, mengaku sempat merekam pelaku melalui kamera keamanan saat melarikan diri.

“Itu hampir semua yang saya lihat, dia berlari keluar dari rumah,” katanya.

Ia juga menyebut sempat melihat salah satu korban anak yang telah ditutup dan tergeletak di atap rumah, namun tidak mendengar adanya pertengkaran sebelumnya.

“Tidak ada suara keras, tidak ada keributan. Semuanya terasa sunyi,” ujarnya.

Pendeta Marty T Johnson Sr dari gereja St Gabriel Community Baptist menyatakan rumah tempat kejadian merupakan miliknya yang disewakan kepada keluarga tersebut. Ia mengaku tidak mengenal keluarga korban, namun siap membantu.

“Saya berencana mengadakan doa bersama untuk keluarga, dan apa pun yang bisa saya lakukan, termasuk membantu pemakaman anak-anak, saya akan melakukannya,” katanya.

“Kita harus merebut kembali komunitas kita, dan kita akan melakukannya.”

Perwakilan Kongres dari Partai Demokrat, Cleo Fields, menyebut penyelidikan kasus ini sebagai proses yang sangat berat secara emosional.

“Tempat kejadian yang tersebar di empat lokasi, delapan anak meninggal dengan usia antara satu hingga 14 tahun, tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan ini,” ujarnya.

Data Gun Violence Archive mencatat, hingga awal 2026 telah terjadi setidaknya enam kasus pembunuhan massal di Amerika Serikat. Sementara itu, lebih dari 110 kasus penembakan massal juga terjadi sepanjang tahun ini, dengan definisi empat atau lebih korban terluka atau tewas.

Dalam peristiwa lain pada akhir pekan yang sama, lima orang dilaporkan terluka akibat penembakan di dekat Universitas Iowa. Tiga di antaranya merupakan mahasiswa, dengan satu korban dalam kondisi kritis.

Presiden Universitas Iowa, Barbara Wilson, menyampaikan keprihatinannya atas kejadian tersebut.

“Saya memikirkan para mahasiswa ini, keluarga, teman, dan semua orang yang peduli kepada mereka,” ujarnya. “Saya turut merasakan kesedihan bersama komunitas yang sedang terguncang saat ini.”

Tingginya angka penembakan massal di Amerika Serikat kembali memicu desakan terhadap penguatan regulasi senjata api. Namun hingga kini, langkah legislatif yang signifikan masih belum terwujud.

Mantan anggota Kongres Arizona, Gabrielle Giffords, yang juga penyintas penembakan dan kini menjadi aktivis pencegahan kekerasan senjata, menyampaikan kritik keras.

“Kita semua seharusnya marah bahwa kita hidup di negara yang terus membiarkan anak-anak menghadapi kekerasan yang tak terbayangkan,” ujarnya.

“Anak-anak kita tidak punya pilihan selain percaya kepada kita untuk menjaga mereka tetap aman, tetapi negara ini terus mengecewakan mereka setiap hari. Para pemimpin harus bertindak sekarang.”

Sumber: The Guardian

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *