Korea Utara Kembali Luncurkan Rudal, Picu Ketegangan di Kawasan

  • Share
Foto: Reuters

RBN || Pyongyang

Korea Utara kembali menuai sorotan internasional setelah meluncurkan sejumlah rudal dari wilayah pantai timurnya pada Minggu (19/4/2026). Aksi tersebut memicu desakan dari berbagai pihak agar Pyongyang menghentikan tindakan provokatif yang berpotensi meningkatkan ketegangan kawasan.

Militer Korea Selatan menyebutkan, peluncuran dilakukan dari Kota Sinpo sekitar pukul 06.10 pagi waktu setempat. Rudal tersebut dilaporkan meluncur sejauh sekitar 90 mil sebelum jatuh di Laut Jepang.

Peluncuran ini menjadi yang keempat dilakukan Korea Utara dalam bulan ini dan ketujuh sepanjang tahun 2026. Aktivitas tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan global, termasuk dampak dari konflik Iran yang turut memengaruhi dinamika geopolitik.

Sejumlah analis menilai, langkah Korea Utara ini merupakan bagian dari strategi untuk menunjukkan kekuatan pertahanan sekaligus meningkatkan posisi tawar di kancah internasional.

“Mungkin peluncuran rudal ini adalah cara untuk menunjukkan bahwa, tidak seperti Iran, kami memiliki kemampuan pertahanan diri,” ujar mantan penasihat keamanan presiden Korea Selatan, Kim Ki-jung.

Ia menambahkan bahwa langkah tersebut juga dapat menjadi bentuk tekanan awal sebelum membuka ruang dialog dengan Amerika Serikat dan Korea Selatan.

“Korea Utara juga tampaknya sedang memberikan tekanan secara dini dan menunjukkan kekuatan sebelum terlibat dalam dialog dengan Amerika Serikat dan Korea Selatan,” lanjutnya.

Hingga kini, jenis rudal balistik yang diluncurkan belum dapat dipastikan. Namun, Sinpo diketahui merupakan lokasi pangkalan kapal selam serta fasilitas uji coba rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam.

Sebelumnya, Korea Utara terakhir kali meluncurkan rudal balistik dari kapal selam pada Mei 2022 dengan jangkauan hingga 370 mil.

Di sisi lain, para pejabat internasional mengingatkan bahwa konflik Iran berpotensi memperkuat ambisi nuklir Korea Utara. Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, bahkan menyebut Korea Utara telah membuat kemajuan yang sangat serius dalam pengembangan senjata nuklir, termasuk kemungkinan pembangunan fasilitas pengayaan uranium baru.

Pada akhir bulan lalu, pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menegaskan bahwa status negaranya sebagai negara bersenjata nuklir tidak dapat diubah. Ia juga menyebut penguatan kemampuan nuklir sebagai bagian penting dari strategi pertahanan nasional.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan kembali menyatakan minatnya untuk menggelar pembicaraan dengan pemimpin Korea Utara saat kunjungannya ke Asia bulan depan.

Situasi ini menambah kompleksitas dinamika keamanan regional, di tengah upaya sejumlah negara untuk menjaga stabilitas dan mendorong dialog diplomatik.

Sumber: Sky News

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *