RBN || Jakarta
Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) di Vietnam mencapai level tertinggi sejak 2022, mencerminkan tekanan serius pada sektor energi domestik yang dipicu oleh dinamika geopolitik global, di mana pada pertengahan Maret 2026 harga bensin RON 95-III tercatat melonjak sekitar 21 persen hingga menyentuh 27.040 dong per liter, sementara E5 RON 92 naik 17,6 persen dan harga solar bahkan menembus ambang 30.000 dong per liter.
Kenaikan ini menjadi level tertinggi dalam hampir empat tahun sebuah perkembangan yang melibatkan pemerintah Vietnam, pelaku industri energi, serta masyarakat sebagai konsumen akhir yang harus menanggung dampak langsung dari kenaikan tersebut kondisi ini tidak dapat dilepaskan dari terganggunya rantai pasokan minyak global akibat konflik yang melibatkan Iran, khususnya di kawasan strategis seperti Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur vital distribusi energi dunia.
Eskalasi ketegangan di wilayah tersebut segera memicu lonjakan harga minyak mentah internasional yang kemudian ditransmisikan ke harga BBM domestik di negara-negara yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor energi seperti Vietnam sebagai respons terhadap situasi yang berkembang cepat.
Pemerintah Vietnam bahkan mengambil langkah luar biasa dengan mempercepat penyesuaian harga di luar siklus reguler, menunjukkan tingkat urgensi dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas pasar dan keberlanjutan pasokan, meskipun kebijakan tersebut pada saat yang sama berimplikasi pada meningkatnya tekanan inflasi serta biaya hidup masyarakat dalam kerangka yang lebih luas.
Fenomena ini menegaskan betapa rentannya sistem energi nasional terhadap gejolak eksternal, sekaligus memperlihatkan bahwa fluktuasi harga BBM tidak lagi semata ditentukan oleh faktor ekonomi, melainkan juga oleh konfigurasi politik global yang terus berubah, sehingga ke depan diperlukan strategi diversifikasi energi dan penguatan ketahanan domestik guna meredam dampak volatilitas pasar internasional yang kian sulit diprediksi.
Sumber: Liputan6











